Demi Seni Tradisi, Mujiyono Rela Disapa Celeng

MERAPI-TEGUH  Mujiyono dengan tokoh Celeng yang diperagakannya.
MERAPI-TEGUH
Mujiyono dengan tokoh Celeng yang diperagakannya.

PERJUANGAN untuk nguri-uri seni tradisi memang membutuhkan pengorbanan yang harus dilakukan oleh para pendukungnya. Salah satunya seni tradisi jathilan Celeng yang hingga saat ini masih dikembangkan oleh kelompok Seni Tradisi Jathilan Kudo Budoyo, Sempu, Bumirejo, Lendah, Kulonprogo. Jathilan Celeng saat ini sudah mulai jarang dipentaskan, hal ini menyangkut adanya tokoh Celeng dalam pertunjukan itu yang tidak diminati.

“Adanya tokoh Celeng yang kemudian menjadi panggilan, bukan hanya di arena pentas tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Inilah yang membuat risih orang yang berperan sebagai tokoh celeng. Sering dipanggil Celeng di belakang nama aslinya,” ucap Mujiyono “Celeng” ketika ditemui Merapi di rumahnya Malangan, Srikayangan, Sentolo, Kulonprogo, Jumat (12/7).

Menurut Mujiyono yang juga salah seorang pendiri Kelompok Seni Tradisi Jathilan Celeng Kudo Budoyo ini, berperan sebagai celeng dalam babak terakhir disetiap pertunjukan pentas dilakukannya dengan totalitas. Bahkan panggilan Celeng pun bagai sudah menyatu pada nama lelaki bertubuh tambun itu.

“Ini konsekuensi ketika harus nguri-uri seni tradisi, meski kemudian punya nama panggilan binatang yang hina. Tapi dari nama itu justru vbanyak mendatangkan berkah. Selain banyak dikenal juga tanggapan untuk main selalu ada, jadi laris,” ucap Mujiyono sambiol tertawa.

Bergabung masuk dunia seni tradisional sejak tahun 1999 setelah tamat SMA, kemudian bersama sejumlah tokoh seni di kampungnya pada tahun 2005 mendirikan Kelompok Kudo Budoyo dengan spesialis jathilan Celeng. Meski kesan seni tradisinya lumayan kental karena adanya balutan mistisnya. Namun garapan kreasi juga ada pada babak pertama dan kedua penampilannya.

“Biasa saya tampil pada babak penutup atau babak ketiga, karena disinilah celeng muncul dan sering bikin kacau suasana penonton. Tapi mereka malah suka dan banyak yang tertawa,” ucap Mujiyono yang mengaku sebelum memasuki tarian celeng yang magis, dia selalu berkomunikasi dengan lawakan segar untuk memikat penonton agar lebih jenak menyaksikan.

Selain berperan sebagai tokoh Celeng ketika turun di arena Jathilan. Mujiyono yang memiliki wajah sedikit mirip dengan komedian Jogja Aldo Iwak Kebo ini, juga sering diminta tampil untuk melucu dari panggung ke panggung di kampung-kampung di daerahnya. Menurut dia kemampuan melucu didapatnya secara otodidak, ketika sedang tampil sebagai Celeng rasanya ingin menunjukan gerak-gerak humor yang mengundang gelak tawa penonton.

“Untuk banyolan lucu sering saya sampaikan pada waktu awal sebelum tampil pada babak terakhir yang terkesan serem,” pungkas Mujiuyono Celeng sambil tersenyum lucu. (C-3)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
JELANG TAHUN AJARAN BARU: Perlengkapan Sekolah Mulai Diburu

SLEMAN (MERAPI) - Menjelang tahun ajaran baru, masyarakat mulai memburu sejumlah perlengkapan sekolah. Tas, sepatu hingga peralatan tulis menjadi yang

Close