MAKAM PETILASAN EYANG SEMAR DI GUNUNG TIDAR (3) – Kain Mori Diganti Setiap Awal Bulan Sura

Sebagai salah satu tokoh dalam cerita pewayangan, namun banyak yang mempercayai Semar benar-benar pernah ada. Salah satu yang menguatkan pendapat itu, adalah ditemukannya makam petilasan dan banyak diziarahi orang.

MAKAM petilasan Eyang Ismaya Jati di puncak Gunung Tidar wujudnya berupa sebuah pusara yang di tengahnya berdiri tegak sebuah replika keris pusaka luk sembilan setinggi kira-kira dua meter. Bilah keris pusaka ini dari bahan tembaga berwarna kuning emas yang dihiasi sembilan buah bintang. Makam petilasan dan replika keris pusaka Eyang Ismaya Jati itu dibalut “ageman” kain mori putih. Kain mori “ageman” ini selalu diganti setiap tahun. Ritual acara penggantian kain “ageman” keris pusaka dan pusara makam petilasan Eyang Ismaya Jati dilaksanakan pada awal bulan Sura.

Pada hari Senin Pon malam Selasa Wage, tanggal 30 Besar 1951 Dal malam 1 Sura 1952 Be atau 10 malam 11 September 2018 Masehi yang lalu, kain mori “ageman” keris pusaka dan pusara dilepas. Kain mori “ageman” yang baru dipasang pada hari Jumat Pahing, 14 September 2018.

Rangkaian ritual Suran di makam petilasan Eyang Ismaya Jati, diawali dengan ‘midodareni’ yang dilaksanakan pada hari Ahad Pahing, 29 Besar 1951 Dal. Menurut Nyi Mayangga Seta (tokoh spiritual yang nama aslinya Uci Aryanti), pelaksanaan ritual ini untuk mensucikan kain ageman yang akan dipasang, menggantikan kain ageman yang lama.

Kain mori warna putih tersebut dijamas dengan sembilan macam minyak, yaitu minyak sedap malam, seribu bunga, misik putih, kasturi kijang, mawar, japaron, kenanga, misik hitam dan kasturi merah. Sedangkan untuk sesajinya berupa kembang telon, melati, mawar putih, kinang ayu, rokok klobot, bunga sedap malam dan dupa cina. Acara midodareni ini diselenggarakan pada siang hari di dekat tugu “Sa Sa Sa”, pelataran puncak Gunung Tidar.

Pada hari Senin Pon malam 1 Sura 1952 Be dilaksanakan ritual kirab Suran, diawali dari pintu gerbang jalan naik ke Gunung Tidar. Dalam kirab ini diusung ubarampe sesaji dan songsong (payung). Nyi Mayangga Seta membawa wayang kulit tokoh Kanestren, isteri Eyang Ismaya Jati atau Ki Semar. Sementara itu, dalang Ki Suprodjo Hadi membawa wayang kulit tokoh Sang Hyang Wenang. Tiba di dalam cungkup Tumpeng Jejeg Sejati, dilaksanakan ritual pelepasan kain ageman makam petilasan dan replika keris. (Amat Sukandar)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Getah Kamboja Redam Sakit Gigi

NAMA tanaman hias jenis kamboja sudah tak asing di masyarakat. Selain sebagai tanaman hias di halaman/pekarangan tempat tinggal, sering juga

Close