PASANG SURUT KERAJAAN BANTEN (2) – Runtuh karena Kudeta Anak Sendiri

KEJAYAAN Banten semakin berkibar di masa Sultan Ageng Tirtayasa, dimana beliau sangat peduli dengan pertanian. Sistem irigasi dan pertanian tadhah udan diperhatikan sekali, sehingga penduduk bisa panen dua kali setahun. Hasil pertanian berkembang pesat, juga saluran air bersih yang terbuat dari bahan tembikar dengan hasil pembakaran merupkan kualitas tinggi pada zamannya. Sampai kapan Banten mengalami kejayaan?

Dalam Babad Tanah Jawi pun diceriterakan, awal keruntuhan sebuah kerajaan adalah ketika terjadi perebutan kekuasaan atau tahta diantara keluarga keraton.

Banten pun mengalami hal itu, sahdan Belanda yang sudah lama berkeinginan menguasai Banten, memanfaatkan kesempatan tersebut. Sultan Haji Abunhasri Kahrar yang notabene anak sendiri melakukan kudeta dibantu Belanda yang punya tujuan terselubung, ingin menanamkan cengkeraman kukunya di Banten. Kudeta yang dibantu Belanda, menyebabkan Sultan Ageng Tirtayasa tergusur dari keraton. Kecewa akan pengkhianatan anak sendiri, Sultan Ageng Tirtayasa sempat merusak atau menghancurkan beberapa bagian dari keraton Surosowan. Melihat kondisi bangunan keraton yang semakin rusak, Belanda memindahkan pusat kerajaan Banten ke Serang. Belanda semakin kuat menancapkan kukunya di Banten, dan beberapa perjanjian dengan Sultan Haji dibuat yang umunya merugikan rakyat Banten. Perjanjian tersebut di antaranya, pembatasan perdagangan, tanam paksa, kerja rodi dan beberapa tekanan lainnya untuk rakyat Banten.

Tidak tahan akan kelicikan Belanda yang merugikan rakyat, maka terjadilah pemberontakan dimana-mana. Puncaknya pada masa pemerintahan Sultan Fathi Zainul Arifin dan Sultan Syarifudin, pemberontakan yang dipimpin oleh Kyai Tapa dan Tubagung Buang.

Di saat Belanda akan membangun jalan dari Anyer-Panarukan rakyat Banten dipaksa kerja rodi, kemarahan rakyat tak terbendung. Pada pemerintahan Sultan Syarifudin, akibat pemberontakan rakyat Banten menyebabkan seorang perwira Belanda dipancung di depan keraton.

Gubernur Daendels waktu itu marah besar, maka dilakukan penyerbuan ke keraton sebagai lambang eksistensi kasultanan.

Keraton Banten dihancurkan oleh Belanda, dan benar-benar hancur setlah Daendels memerintahkan penghancuran. Berbagai material dalamm istana dijadikan sebagai bahan untuk membangun gedung Landrost atau setingkat residen di Serang. Adapun sisa-sisa yang terlihat adalah bangunan Masjid Agung beserta menaranya, yang konon dibangun masa awal kasultanan Banten. Keraton Kaibon yang pengganti keraton Surosowan pun tidak ketinggalan dirusak oleh Belanda, dan reruntuhan bangunannya untuk bahan pembangunan gedung-gedung pemerintahan Belanda di Serang. Keluarga keraton dan kerabat sultan tidak tinggal di keraton, namun menyatu hidup bersama rakyat Banten. Semuanya kini tinggal kenangan, tetapi sejarah mencatat bahwa Banten pernah berjaya dan lebih ramai dibanding Sunda Kelapa pada waktu itu.(Ki Sabdo Dadi)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
RUTIN DIKONSUMSI MAMPU MENCEGAH SERTA MELAWAN KELUHAN KESEHATAN (4) – Pare Bantu Normalkan Kadar Gula

KREASI mengolah makanan maupun minuman sehingga memiliki cita rasa enak banyak dilakukan berbagai pihak. Selain enak tak kalah penting bisa

Close