PASANG SURUT KERAJAAN BANTEN (1) – Bandar Banten Lebih Ramai dari Sunda Kelapa


BEBERAPA abad lalu ada ceritera bahwa bandar Banten pernah lebih ramai dibandingkan Sunda Kelapa, dan berfungsi sebagai bandar dagang Nusantara.

Disebut-sebut Sultan Maulana Hasanuddin raja pertama kerajaan Banten pada waktu itu, ikut andil atau peran besar membuat kota kecil itu di pesisir Banten itu menjadi pusat perdagangan di Nusantara. Hal ini membuat kerajaan Pajajaran yang sudah lebih dahulu ada sebagai ancaman, maka perlu digecak perang. Pertentangan kerajaan bertetangga itupun tidak terhindarkan, terjadi peperangan untuk berebut siapa yang paling berkuasa. Bagaimana ceriteranya?

Dalam Babad Tanah Jawi dikisahkan, Banten menjadi tempat persinggahan utama para pedagang dari Gujarat, Cina, Jepang, Parsi dan lain-lainya. Seperti pada umumnya, para pedagang itu membeli rempah-rempah, dilain pihak mereka membawa barang dagangan dari negeri masing-masing, seperti kain sutera, porselin, keramik dan lain-lainnya.

Boleh dikata, Banten tambah moncer karena hasil bumi melimpah, menbuat pasar dagang menjadi ramai. Kerajaan Islam yang paling tersohor pada waktu itu, benar-benar digambarkan sejahtera makmur, tata titi tentrem kertaraharja

. Bukti berkembangnya Banten, pada waktu itu disana terdapat tiga pasar yang buka setiap harinya. Ada pasar Karangantu, banyak ditemui pedagang asing seperti dari Turki, Cina, Melayu, India berbaur dengan pedagang pribumi melakukan kegiatan jual-beli melayani pembeli. Kemudian di dekat Masjid Agung, di tempat ini khusus diperjual-belikan hasil bumi, seperti buah-buahan, merica, dan aneka jenis sayuran.

Pedagang dari luar membawa kain, barang-barang keramik, benang dan lain sebagainya. Dan yang ketiga adalah pasar di daerah Pecinan, yang buka sampai malam hari dijadikan transaksi. Wajar, kalau Banten menjadi kota yang ramai tidak pernah tidur.

Sahdan kerajaan Pajajaran yang lebih dulu ada, merasa berkembangnya kerajaan Banten sebagai sebuah ancaman. Kerajaan Banten pun mersakan pula, maka pada masa pemerintahan Maulana Yusuf, benteng pertahanan diperkuat. Keraton Surosowan sebagai pusat pemerintahan Banten dikelilingi benteng kokoh terbuat dari batu bata dan karang setebal 5 meter.

Maka ketika terjadi peperangan dengan Pajajaran, Banten bisa menang. Namun Banten melakukan pendekatan kekeluargaan, para punggawa Pajajaran tidak ditawan, atau dibuang. Tetapi mereka tetap diperkenankan, memegang jabatan semula. Namun dengan syarat, mereka disuruh masuk Islam atau di Islam kan. Konon, ini merupakan salah satu cara untuk memperkokoh dan memantabkan keamanan. Terbukti, dengan cara demikian gangguan dari Pajajaran jauh lbih berkurang. Sementara Banten bisa lebih fokus pada pembangunan wilayah serta ekonomi rakyat, membuat Banten semakin berkibar.

Tentu saja dengan kondisi Banten yang sedemikian rupa, membuat Kumpeni Belanda ngiler atau punya keinginan untuk menguasai wilayah tersebut untuk kegiatan dagang khususnya. Masa kejayaan dan keemasan kerajaan Banten terjadi pada kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa, pada masa itu sekeliling keraton diberi benteng bermeriam yang temboknya dibangun dengan batu bata arsitek Belanda.(Ki Sabdo Dadi)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Salmon Jaga Kesehatan Jantung

JENIS ikan laut cukup populer dan mampu berperan mendukung kesehatan badan, yakni salmon. Ikan ini dikenal sangat baik bagi kesehatan

Close