GUA GONG PACITAN, DULU ANGKER KINI JADI OBWIS ANDALAN (3-HABIS) – Ruangan Gua Membentuk Kubah Raksasa

PEMERINTAH Kabupaten Pacitan pun tidak tinggal diam demi mengetahui bahwa di daerahnya ditemukan gua yang potensial untuk dijadikan objek wisata. Oleh karena itu mulai tanggal 31 Juli 1996 beberapa fasilitas mulai dibangun di sekitar Gua Gong. Pada tahap-tahap awal dibangunlah tangga (undakan) dengan pagar pengaman dari bahan stainless steel di kiri kanan tangga, dimasukkan pula penerangan dari PLN. Selain itu di dalam gua juga dilengkapi kipas angin besar untuk menambah asupan oksigen dan mengusir hawa gerah. Hal ini dilakukan untuk memberikan kenyamanan para pengunjung Gua Gong.

Wisatawan yang berkunjung ke Gua Gong juga akan dimanjakan oleh aneka macam oleh-oleh khas Pacitan seperti sale pisang, kerupuk jagung, pecel kecambah lamtoro, grubi, tempe benguk, kaus khas Pacitan, batu mulia, dan aneka jajanan. Warung atau kios di objek wisata Gua Gong dibangun di sepanjang kanan-kiri jalan masuk menuju Gua Gong. Tidak perlu ragu untuk berbelanja di kompleks Gua Gong atau objek wisata lain di Pacitan karena harga-harga di sana adalah harga yang sangat wajar. Tidak ada istilah “harga nuthuk” di tempat ini. Untuk gambaran saja, harga sepincuk pecel kecambah lamtoro adalah RP 5.000,-, ojek dari terminal ke gua Rp 3.000-5.000,-, satu bendel sale berbungkus daun pisang Rp 6.000,-, segelas kopi Rp 3.000,-, bakso Rp 7.000,-. Hal inilah mungkin yang menjadi salah satu kunci keberhasilan atau suksesnya penggarapan objek wisata di Pacitan.

Gua Gong memiliki ruangan yang membentuk semacam kubah raksasa yang mengarah ke barat-timur. Panjang kubah sekitar 100 meter sedangkan lebarnya berkisar antara 15-40 meter dan ketinggiannya sekitar 20-30 meter. Mulut Gua Gong terhitung pendek dan relatif sempit. Setiap ruangan di dalam Goa Gong memiliki berbagai ornament khas gua karst. Pada bagian atap atau langit-langit gua banyak stalaktit. Selain itu banyak stalaktit yang membentuk drapery (seperti kain yang menggantung dan beralun). Beberapa stalaktit bahwa seperti kain menjuntai lebar sampai bawah.

Di samping banyak ditemukan stalaktit dan stalakmite, di Gua Gong juga ditemukan apa yang disebut pilar atau kolom yang merupakan stalaktit dan stalakmite yang menyambung menjadi satu kesatuan dan membentuk semacam tiang. Menurut pengamatan ahli geomorfologi, stalaktit di Gua Gong memiliki arah deret ke barat laut sampai tenggara.

Di dalam Gua Gong juga sitemukan apa yang disebut sebagai flowstone. Flowstone di dalam gua ini membentuk semacam alur yang menunjukkan tentang adanya aliran di dalam gua dengan kecepatan yang rendah atau sangat rendah. Permukaan stalakmit yang dilapisi flowstone menyebabkan ornament yang ditimbulkannya menjadi bertumpuk-tumpuk. Kolom yang ada di dalam Gua Gong sendiri sebagian besar hingga kini masih mengalami proses pembentukan.

Ornamen-ornamen di dalam gua yang terbentuk secara alamiah tersebut diberi nama yang cukup menarik, seperti Selo Jengger Bumi, Selo Paku Buwono, Selo Bantaran Angin, Selo Gerbang, Selo Citro Cipto Agung, Selo Adi Citro Buwono, dan lain sebagainya. Selain itu air rembesan yang menetes melalui langit-langi gua dan ujung-ujung stalaktit tertampung pada permukaan gua yang berbentuk cekung sehingga membentuk genangan seperti kolam, sendang, atau telaga. Hampir semua sendang atau telaga yang terbentuk itu airnya tidak pernah kering di sepanjang tahun. Air dari sendang atau dari tetesan di Gua Gong ini oleh banyak kalangan sering dipercaya dapat memberikan tuah tertentu, misalnya kecantikan, keselamatan, ketenteraman, dan awet muda.

Menurut para ahli Gua Gong terbentuk pada formasi batu gamping Wonosari yang berumur neogen pada kisaran 15-10 juta tahun yang lalu. Pembentukan tersebut diawali ketika batu gamping mengalami apa yang disebut karstifikasi, yakni sejak mengalami pengangkatan dari dasar laut ke permukaan pada zaman Kuarter atau sekitar 1,8 juta tahun yang lalu. Pelarutan batuan yang difasilitasi oleh air dan retakan batuan selama proses pengangkatan berlangsung menyebabkan timbulnya rongga-rongga pada batuan menjadi semakin lebar. Selama kurun waktu ratuan hingga jutaan tahun maka formasi-formasi gua pun terbentuk. Demikian halnya dengan Gua Gong di Pacitan ini. (Albes Sartono)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Teri Bantu Hindarkan Anemia

IKAN teri meski wujudnya kecil-kecil, namun banyak dipercaya memiliki banyak khasiat kesehatan. Mayoritas panjang tubuh ikan teri antara dua sampai

Close