PERJALANAN PANJI SUMENANG PASCA RUNTUHNYA MAJAPAHIT (3) – Mengatasi Mageblug dengan Menggelar Merti Desa

SEJAK zaman dahulu sesungguhnya orang sudah merasakan arti pentingnya kebersihan dalam kehidupan sehari-hari. Hanya saja mereka belum menyadari akibatnya apa apabila kebersihan itu terabaikan dan tidak dilaksanakan sebagai rutinitas sehari-hari. Bahkan timbulnya penyakit endemi yang dulu disebut pageblug juga lebih dipahami sebagai kelakuan makhluk halus yang jahat dari pada sebagai dampak dari kekeliruan cara menjalani kehidupan manusia itu sendiri. Nah, solusi tepat yang akhirnya mereka ketemukan lewat sasmita maupun mimpi adalah menyelenggarakan merti desa atau bersih desa.

Perjalanan pulang kampung sambil menyebarkan ajaran Agama ternyata membutuhkan waktu yang sangat panjang. Panji Sumenang alias Sunan Palang Santikawara dan rombongan memasuki tahun 1499 tiba di dusun Sipandan bertemu dengan Ki Ageng Gribig putra Brawijaya V. Sekarang daerah ini termasuk wilayah Kabupaten Klaten dimana warganya sudah banyak yang memeluk agama Islam pada waktu itu.

Kehidupan di sini sebenarnya sudah cukup maju, sawah-sawah nampak menghijau segar dengan berbagai tanamannya, sungai-sungai tetap ada airnya meski kurang bersih, kehidupan kayaknya juga tenteram, damai, bahagia, makmur dan murah sandang pangan.

“Wilayahku ini sedang dilanda pageblug, Nak Mas Panji”, berkata Ki Ageng Gribig, ”Warga banyak yang menderita penyakit aneh, esuk kejangkitan penyakit itu siangnya meninggal. Siang menderita malamnya meninggal, malam terasa sakit pagi harinya meninggal begitu dan seterusnya”, kata Ki Ageng Gribig, judheg.

Panji Sumenang mengangguk-angguk, memahami masalah itu. Malam harinya beliau duduk bersila, berkonsentrasi, memusatkan nalar budinya, manekung, maneges, mencari sasmitaning Illahi, dan memohon petunjukNya. Akhirnya didapatlah gambaran dalam bayangan mimpinya yang kemudian disampaikan kepada Ki Ageng Gribig,

“Sepertinya itu penyakit pes, Ki Ageng. Salah satu hewan yang menyebarkan penyakit tadi adalah tikus. Makanya warga masyarakat mulai hari ini harus kita ajak hidup bersih, rumah bersih, lingkungan seputar bersih, parit-parit juga harus kita bersihkan, kebun-kebun bersih, juga sawah-sawah jangan sampai banyak tumpukan jerami dan sebagainya. Dengan demikian tikus- tikus tidak akan kerasan dan menjauhi lingkungan tempat tinggal kita maka penyakitpun akan menghilang dengan sendirinya”.

“Hmmmm, begitu? Jadi kita harus merti desa, Nak Mas Panji?”.

“Ya”.

Esuk paginya seluruh warga dusun Sipandan diajak merti desa yaitu gotong royong bersih-bersih lingkungan, ada yang membuat lubang-lubang tanah untuk memendam sampah-sampah yang berserakan, rumput-rumput kering dan daun-daun kering dibakar, parit-parit yang mampet karena sampah dibersihkan, dan gerumbul-gerumbul perdu dibabati.

“Nak Mas Panji, di sebelah selatan desa ini terbentang hutan pandan yang sangat luas. Nah, kalau kita mau babad alas pandan cukuplah untuk tempat pemukiman warga-warga baru yang mau menjadi penduduk di sini”, usul Ki Ageng Gribig.

“Setuju”, jawab Panji Sumenang. Karena diantara para pengikutnya ada beberapa orang yang menginginkan tinggal di tempat itu saja tidak perlu melanjutkan perjalanan pulang sampai ke Majapahit. Sesudah lingkungan tempat tinggal Ki Ageng Gribig bersih warga kampungpun nampak mulai sehat, berangsur-angsur penyakit berkurang, warga juga bisa kembali bekerja seperti sedia kala. (Akhiyadi)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Kedelai Jaga Daya Tahan Tubuh

KACANG kedelai kuning atau putih sudah banyak dikenal masyarakat luas. Cara pemanfaatannya selain cukup direbus dapat juga dijadikan berbagai jenis

Close