MENELISIK DINAMIKA MATARAM ISLAM PASCA PANEMBAHAN SENOPATI (3) – Nasib Tragis Bupati Demak, Termakan Hasutan Bawahan

MENURUT Serat Kandha menuturkan kisah, pemberangkatan pasukan besar-besaran dari Demak yang dipimpin Ki Adipati Gending dan Adipati Panjer untuk menggempur Mataram, diketahui oleh Adipati Pajang yang masih menunjukkan sifat kesetiaannya pada Mataram. Maka dalam suatu acara pertemuan, adanya pergerakan pasukan menuju Mataram itu dilaporkan kepada Panembahan Krapyak. Dalam kisah itu juga diceritakan, sikap sang Nata begitu mendengar laporan dari tentara sandi yang disebar ke utara, bahwa pasukan Bupati Demak telah melakukan serangkaian perampokan dan penjarahan di daerah seputaran Pegunungan Ungaran. Raja berhati emas ini justru bersedia memberikan bagian utara kerajaaan kepada kakaknya itu.

Tidak hanya sampai disitu, Prabu Hanyakrawati mengajak kakaknya untuk membicarakan berbagai masalah terkait dengan teritorial antara Demak dan Mataram. Namun ajakan itu tidak mendapatkan tanggapan yang baik dari Bupati Demak, bahkan sampai empat kali Panembahan Krapyak menawarkan pertemuan antara adik dan kakak, namun selalu saja undangan itu ditolaknya dengan kasar. Bupati Demak rupanya menganggap Mataram lemah, sehingga pergerakan pasukannya makin diperkuat dan diusahakan untuk menguasi daerah Tambak Uwos.

Tidak seberapa lama Tambak Uwos sudah dikuasi pasukan Ki Adipati Gending dan Adipati Panjer. Mendengar laporan salah satu wilayah lumbung pangan Mataram dikuasai Demak, Raja lantas memerintahkan untuk menyusun kekuatan guna menghadapi dan mengusir pasukan Demak. Bala tentara Mataram dipersiapkan sedemikian rupa, meski dalam hati tidak ingin berperang dengan kakaknya sendiri. Namun tuntutan kedaulatan dan titah sang raja seperti sudah diabaikan, maka Prabu Hanyakrawati berangkat sendiri dengan memimpin pasukan sebanyak 10.000 prajurit tangguh.

Dalam pertempuran itu, pasukan Demak dapat dikalahkan dan takluk setelah Ki Adipati Gending dan Adipati Panjer tewas terbunuh, begitu juga dengan Patih Tandanegara tewas terbunuh dalam pertempuran itu. Nasib Bupati Demak agak mujur, dia dapat diringkus dan ditangkap dengan tangan diikat layaknya pesakitan atau tawanan perang. Namun karena kedudukannya sebagai Kakak sang Nata, maka oleh tentara Mataram Pangeran Puger meski sebagai tawanan tetap dimuliakan dengan diikat di atas tandu.

Ketika hal itu disampaikan kepada Prabu Hanyakrawati, atas titahnya Bupati Demak beserta keluarganya diperintahkan untuk di bawa ke Kudus. Dalam versi lain dikisahkan, setelah pasukan Demak mampu dilumpuhkan, atas kehendak sang Nata agar kakaknya ditangkap hidup-hidup untuk selanjutnya di bawa ke Mataram mendapat hukuman melalui pengadilan kerajaan. Dalam perjalanan menuju Mataram, Bupati Demak dicangak seperti seorang pencuri yang dimasukan ke dalam keranjang layaknya membawa hewan hasil buruan. Namun begitu sampai Jatisari, Raja memerintahkan pasukan membawa Kakaknya yang sudah meminta ampun untuk dibawa ke Kudus.

Kehidupan Pangeran Puger beserta keluarganya setelah itu sangat menyedihkan, menjalani kehidupan sebagai “santri’, dengan tinggal menetap di sebelah utara sebuah candi. Selain itu segala gerak geriknya pun menjadi pengawasan ketat bagi penguasa setempat. Bagai tawanan kota, mantan Bupati Demak ini tidak bisa leluasa berpergian. Bahkan untuk keluar kota pun dibatasi hanya bisa sampai Pati dan Tanjung.

Untuk menata pemerintahan Demak, kemudian diserahkan kepada salah seorang pimpinan pasukan bernama Ki Gede Mestaka yang kemudian bergelar Pangeran Endraningrat. Namun pada beberapa serat ada yang menyebutnya sebagai Suranata yaitu salah seorang keturunan dari santri Suranata dari Candi Demak. (Teguh)

Read previous post:
Diteror “Suster” Rumah Sakit

MALAM itu adalah malam pertama Irfan (semua bukan nama asli) menemani ibunya menginap di rumah sakit. Ibunya baru saja menjalani

Close