MENELISIK DINAMIKA MATARAM ISLAM PASCA PANEMBAHAN SENOPATI (1) – Raden Jolang Pengganti Panembahan Senopati

DALAM kelanjutan dinasti Mataram Islam, setelah Panembahan Senopati sebagai peletak dasar sendi-sendi keluhuran kerajaan Mataram pasca Pajang wafat, menjadi menarik ketika kemudian pengganti tahta memiliki nama anumerta Panembahan sebagai sebutannya. Tidak banyak sumber yang dapat memberi informasi, siapa sebenarnya putra mahkota yang kemudian bergelar Adi Prabu Hanyakrawati itu. Hanya saja dalam Sejarah Dalem disebutkan, Adi Prabu Anyakrawati Senapati Ing Ngalaga Mataram, disebut-sebut sebagai pengganti pendiri dinasti Mataram Kotagede di Mentaok yang kelak dalam sejarah disebut sebagai Panembahan Seda Ing Krapyak setelah wafatnya.

Nama Krapyak sendiri memiliki arti lokasi pengembalaan atau lahan perburuan kidang pada masa kejayaan raja-raja terdahulu. Bahkan masih membutuhkan penelitian yang lebih mendasar lagi, jika istilah Krapyak yang disebutkan kepada penyebutan Panembahan Seda Ing Krapyak dengan nama kampung Krapyak di selatan Keraton Yogyakarta sekarang dengan bangunan “panggung Krapyak” ,yang menjadi salah satu titik sumbu imajiner utara-selatan, Merapi-Parangkusumo.

Bila merujuk sejumlah kisah tutur yang berkembang di masyarakat Jawa umumnya, Panembahan Seda Ing Krapyak adalah putra Panembahan Senapati dengan permaisuri Ratu Mas Waskitajawi yang berasal dari Pati, dia memiliki nama kecil Raden Jolang (tandu). Bagi Panembahan Senopati, Raden Mas Jolang adalah putra ke sepuluh, namun dia merupakan putra keempat dari permaisuri asal pesisir Pati itu. Raden Mas Jolang merupakan putra pertama bagi Panembahan Senopati yang tidak meninggal pada usia belia. Dia juga memiliki banyak saudara laki-laki dan perempuan berasal dari para selir yang kedudukannya lebih rendah.

Diantara saudaranya itu adalah Raden Mas Tembaga dan Raden Mas Kedawung, dalam perjalanan waktu kemudian diangkat menjadi Adipati Puger dan Pangeran Demang Tanpa Tangkil. Meski bukan putra sulung, Raden Mas Jolang ditunjuk oleh Panembahan Senapati sebagai penggantinya karena dia anak dari permaisuri. Dari sejumlah sumber, pengangkatan Raden Mas Jolang sebagai Adi Prabu Anyakrawati dilaksanakan semasa Panembahan Senapati masih hidup. Bahkan sebelum menerima tahta secara resmi, Adi Prabu Anyakrawati harus menjalani ujian yang cukup berat, yaitu ditugaskan menumpas pemberontakan Adipati Pragola dari Pati yang membangkang. Tugas kenegaraan menghadang Adipati Pragola yang membawa seluruh kekuatan pasukannya ke Mataram, ternyata nyaris membuatnya terbunuh dalam pertempuran itu. Untung saja nasib baik masih berpihak pada kandidat penguasa Mataram Kotagede ini, konon karena “kesaktiannya” yang menurut sejumlah kisah tutur Adi Prabu Hanyakrawati memiliki warisan keilmuan dari wali Sunan Bonang, yang juga memiliki sebutan Hanyakrawati. Pemberontakan Adipati Pragola akhirnya dapat ditumpas oleh Panembahan Senapati yang turun laga sendiri.

Dari Serat Kandha diperoleh data, sebagai mana kisah tutur yang sudah diketahui banyak orang Jawa, hari Senin, Adi Prabu Anyakrawati di nobatkan sebagai Senapati Ing Ngalaga Kerajaan Mataram yang ditandai dengan upacara tradisional. Dengan didampingi Adipati Mandaraka dan Pangeran Mangkubumi sambil memegang tangan putra mahkota, kemudian menempatkan calon raja itu duduk di kursi singgasana berbalut warna keemasan. Lantas kedua pembesar kerajaan Mataram itu berdiri di sisi kanan-kiri putra mahkota. Pangeran Mangkubumi dengan suara lantang dan keras berbicara kepada seluruh yang hadir di Siti Hinggil dan paseban utama,” wahai orang-orang Mataram, saksikanlah bahwa Pangeran Adipati sekarang diangkat menjadi raja menggantikan ayahandanya Panembahan Senapati.” Sebagaimana layaknya tradisi jumenengan dalam tata paugeran kerajaan Jawa, dalam pengumuman itu juga disampaikan tantangan kepada siapa saja yang berani melawan kehendak paugeran.

Namun tidak seorang pun yang berani menerima tantangan itu atau pun menentang jumenengan, seluruh anggota keluarga terdekat, para bupati nakaya maupun sentana hingga lurah memberi hormat dan tunduk pada pengangkatan itu. Setelah Raja beserta pembesar kerajaan lainnya kembali ke dalam Istana, sebagai mana umumnya rasa syukur kemudian dilakukan pesta dan jamuan kebesaran bagi seluruh rakyat Mataram. (Teguh)

Read previous post:
Suporter Minta Pengganti Retno Bukan Manajer Boneka

SLEMAN (MERAPI) - Mundurnya Retno Sukmawati sebagai manajer PSS Sleman mengejutkan banyak pihak, termasuk suporter. Brigata Curva Sud (BCS) diwakili

Close