PANEMBAHAN SENOPATI NGLURUG KE BANG WETAN (5) – Akhirnya Retno Jumilah Rela Digendhong

SANG putri telah siuman. Emban lalu memberikan keris wasiat kiai Gumarang dan diterima oleh Retno Jumilah. Buru-buru gadis cantik tadi masuk kekamarnya bertukar baju dengan pakaian layaknya seorang laki-laki, nyengkelit keris di dadanya, menggenggam sepucuk pistol, dan menyiapkan serampang lalu duduk di ruang depan Kadipaten.

Panembahan Senopati sudah mengerti jika Panembahan Madiun beserta keluarga pergi dari Kadipaten dan putrinya ditinggalkannya. Beliau segera bergegas ke sana dengan berjalan kaki. Hatinya senang sekali membayangkan kecantikan wajah Retno Jumilah yang sudah diimpi-impikannya sejak beliau tiba di Madiun dan mesanggrah di tempat itu.

“Dorrr…!” Retno Jumilah menembak dada Panembahan Senopati lalu melempar dengan serampang. Namun Panembahan Senopati yang mengenakan baju Antakusuma itu tidak mempan peluru dia tetap melangkah dengan gagahnya ke arah Retno Jumilah.

“Jika aku tusuk dengan keris ini dadamu tidak tembus nyata-nyata kau orang sakti mandraguna,” ancam gadis itu sambil melotot dan mengacungkan keris yang telah dihunusnya.

Panembahan Senopati kedher juga melihat keris pusaka di tangan perempuan yang sedang marah itu. Beliau berhenti melangkah dan berdiri di pintu sambil memandanginya dengan sorot mata yang tajam, sesekali bibirnya dihiasi dengan senyumnya yang menawan. Kata-kata rayuanpun diucapkannya untuk membujuk Retno Jumilah sekalian menurunkan tensi kemarahan gadis itu. Tentu saja tidak luput rayuan gombal juga diselipkan diantara kata-katanya agar gadis didepannya makin tertarik dan melupakan kemarahannya.

Sesungging senyum nampak merekah di bibirnya Retno Jumilah ketika mendengar kata-kata Panembahan Senopati. Perlahan-lahan kemarahannya hilang, ia duduk lunglai di kursinya, kerisnya terjatuh tanpa terasa. Panembahan Senopati mendekatinya, keris diambilnya, dimasukkan ke dalam wrangkanya lalu disengkelit dan duduk disisi gadis manis itu sambil mengelus bahunya.

“Sumpahku masih satu lagi, Senopati,” kata Retno Jumilah.

“Oh. Apa itu?”.

“Jika jarimu kugores dengan pisau cukurku ini tidak terluka aku rela kamu gendhong masuk ke kamar itu,” kata Retno Jumilah sambil menggoreskan pisaunya ke jari Panembahan Senopati dan ternyata jari itu sama sekali tidak terluka. Akhirnya Retno Jumilah harus merelakan dirinya digendhong Panembahan Senopati masuk ke kamarnya, mereka berdua berkasih-kasihan. Akhirnya Retno Jumilah bersedia diambil sebagai istri oleh Panembahan Senopati. Keris Kiai Gumarang lalu diubah namanya menjadi Kiai Gupita.

        ***

Atas saran Ki Patih Mandaraka pagi itu Panembahan Senopati mengumpulkan para Adipati yang sudah ditaklukkan. Mereka disuruh datang ke Kadipaten Madiun yang kini kosong dan hanya ditinggali oleh Retno Jumilah putri Panembahan Madiun. Mereka sudah benar-benar menyerah kalah dan tidak berniat melawan lagi. Diantara para bupati yang hadir ada beberapa orang yang sudah membawa pisungsung berupa harta kekayaan, emas picis raja brana, dan barang berharga lainnya sebagai persembahan kepada Senopati ing Ngalaga yang telah berhasil mengalahkannya.

Ki Patih Mandaraka mengumumkan kepada para bupati yang berkumpul. Dikatakannya bahwa Panembahan Senopati masih akan memperluas jajahannya ke Kadipaten-kadipaten lain di wilayah Bang Wetan. Hal ini untuk mewujudkan keinginannya menjadi raja penguasa seluruh Pulau Jawa. Bagi kadipaten-kadipaten yang tidak ingin mengalami kehancuran sebaiknya segera menyatakan takluk selambat-lambatnya sampai akhir bulan Mukharam nanti.

“Maaf, Ki Patih Mandaraka. Saat ini juga aku harus segera pulang ke Pati, ada musuh datang yang harus kusambut”, kata Adipati Pati yang tiba-tiba berdiri dan langsung meninggalkan tempat itu.

“Sebentar, Adhimas Pati. Apa tidak sebaiknya masalah itu kita pikirkan bersama?”, Ki Patih mencoba menundanya.

“Tidak perlu”, jawab Adipati Pati dengan ketusnya dan terus melangkah pergi. Hatinya sungguh sangat tidak berkenan. Sebab Panembahan Senopati mengambil Retno Jumilah sebagai istrinya dan dia tidak rela tetapi juga tidak bisa berbuat apa-apa. Karena betapapun marahnya toh Panembahan Senopati itu bukan tandingannya? Lagian Pati juga bukan Kadipaten taklukannya Mataram? Kalaupun dia datang ke Madiun itu karena diundang sebagai tamu kehormatan?.

“Hmmmm…!”, Ki Patih Mandaraka hanya bisa bergumam sambil memandangi kepergian Adipati Pati. Dalam hati beliau menyayangkan hal itu terjadi sebab antara Pati dan Mataram itu mestinya bersaudara. Lain waktu harus kubicarakan dengan sanak kadang keturunan Adhi Penjawi bagaimana sebaiknya. (Akhiyadi)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Banggai akan Menjadi Destinasi Wisata Mancing Kelas Dunia

JAKARTA (MERAPI)– Siapa yang berani meragukan wisata bahari Indonesia? Mau free diving, surfing, atau sail, semuanya ada. Bahkan levelnya tingkat

Close