PANEMBAHAN SENOPATI NGLURUG KE BANG WETAN (3) – Abdi Dalem Putri untuk Mengecoh

BENAR. Nimas Adhisara pagi hari berikutnyapun sudah tiba di Madiun. Wanita muda itu tampil sebegitu cantiknya, mengenakan pakaian terbaiknya, gelungnya pakai cunduk mentul bermata tretes berlian yang berkilauan tertimpa cahaya matahari. Dari pesanggrahan menuju ke Kadipaten Ia naik tandu, diusung empat orang prajurit dan ada satu lagi prajurit yang memayunginya. Sungguh mereka mirip sekali dengan putri Kedaton.
“He, kau siapa?”, bertanya Panembahan Madiun heran memandangi wajah Nimas Adhisara yang cantik molek. Wanita ini dengan tidak peduli segera turun dari tandu, berlari-lari kecil masuk ke Kadipaten, lalu bersujud di kaki Panembahan Madiun.

“Sembah bektiku kagem Panembahan Madiun. Namaku Nimas Adhisara abdi dalem putri kerajaan Mataram. Kedatangan hamba kemari diutus oleh Ki Patih Mandaraka agar menyampaikan surat dari Panembahan Senopati. Isi surat ini menyatakan bahwa Panembahan Senopati takluk kepada Panembahan Madiun sekalian menyerahkan Kerajaan Mataram. Jika diperkenankan Panembahan Senopati juga ingin mengabdi kepada Panembahan Madiun di sini”.

Setelah membaca surat tadi Panembahan Madiun tersenyum, “Nimas Adhisara, katakan kepada Gustimu! Sesungguhnya aku tidak berniat memusuhi Senopati yang sudah kuanggap seperti anakku sendiri. Para Bupati dari Bang Wetan itulah yang ingin memusuhinya. Berhubung Gustimu sudah berniat takluk kepadaku maka biarlah Bupati-bupati Bang Wetan yang ngumpul di sini itu aku suruh bubar, pulang ke Kadipatennya masing-masing bersama seluruh prajuritnya. Selanjutnya Senopati akan aku persaudarakan dengan kedua anakku”.

“Terima kasih, Panembahan”, jawab Nimas Adhisara, “Panembahan, junjunganku. Panembahan Senopati juga mohon dikabulkan permintaan khususnya!”.

“Permintaan apakah itu?”.

“Panembahan Senopati minta air cucian kaki paduka untuk diminum dan digunakan untuk mandi agar bisa menjadikan keselamatan dan kekuatan baginya!”

“Baiklah, aku terima pengabdian Senopati yang tulus ini”, lalu Panembahan Madiun segera mencuci kakinya. Nimas Adhisara dengan menggunakan bokor mengambil air cucian kaki tadi. Setelah pisowanan itu dirasa cukup Nimas Adhisara segera minta diri untuk kembali ke pesanggrahan Panembahan Senopati.
***
Para prajurit Mataram masih mesanggrah di pesanggrahan yang didirikannya di tepi bangawan Madiun. Sementara sejak pagi tadi prajurit-prajurit dari berbagai Kadipaten nampak hilir mudik menyeberangi Bengawan kembali ke kadipatennya masing-masing. Diantara mereka ada yang kecewa karena peperangan tidak jadi. Bahkan Panembahan Madiun sendiri yang semula mengajak melawan Senopati dari Mataram malahan dia sekarang berdamai.
Ki Patih Mandaraka mendekati Panembahan Senopati, “Kalau kau ingin menjadi raja yang menguasai seluruh tanah Jawa sekarang juga sowanlah kepada Sunan Kalijaga di Adilangu mintalah baju yang bernama Kyai Goendil atau Kyai Antakusuma kepada beliau!” perintahnya.

“Baiklah, Paman. Aku akan segera berangkat beserta beberapa orang pengawal saja dengan naik kuda”, jawab Panembahan Senopati. Perjalanan ke Adi Langu menjadi jauh lebih cepat karena mereka naik Kuda.
Sunan Kalijaga sebagai ulama yang matang ilmunya “Ngerti sakdurunge winarah” maka kedatangan Panembahan Senopati itupun telah diperhitungkannya. Oleh karena itu dengan mudahnya beliau memberikan baju Kyai Goendil atau Kyai Anta Kusuma kepada Panembahan Senopati dan berpesan agar segera kembali ke pesanggrahan di Madiun.

Baju Kyai Goendil atau Kyai Antakusuma itu sebenarnya merupakan sebuah pusaka dimana jika orang memakainya dia akan kebal terhadap senjata dan tidak tembus peluru. (Akhiyadi)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Kembang Telang Miliki Antioksidan

PEMANFAATAN kembang atau bunga telang cukup beragam, sehingga tanaman ini biasa dibudidayakan termasuk di kebun herbal. Jika dibuat minuman kesehatan,

Close