PANEMBAHAN SENOPATI NGLURUG KE BANG WETAN (2) – Memilih Isi atau Wadahnya

DI Japan prajurit-prajurit Mataram sudah mulai berhadap dengan para prajurit dari Bang Wetan yang jumlahnya lumayan banyaknya juga. Mereka saling mengamati mencari kelemahan masing-masing dan berusaha menentukan strategi-strategi yang jitu untuk mengalahkan lawannya. Ancaman dan caci makipun saling dilontarkan masing-masing pihak.

Dalam situasi yang tegang ini datanglah utusan dari Sunan Giri, mereka lalu membuat pesanggrahan tersendiri. Kemudian dipanggillah Panembahan Senopati, Pangeran Surabaya, berikut para bupati ke pesanggrahan tersebut.

“Saudara-saudara para pejabat dari Mataram maupun dari Bang Wetan. Kedatangan saya kemari diutus oleh Sunan giri agar membacakan surat yang beliau tulis sebagai berikut: “Saya, Kanjeng Sunan Giri. Memerintahkan kepada anak-anakku Panembahan Senopati dan Pangeran Surabaya jika kalian bermaksud mau berperang saya tidak mengizinkan. Sebab hal itu hanya akan memakan korban kematian dan rusaknya tata kehidupan kawula alit. Maka diantara kalian kupersilakan berdamai dengan memilih salah satu. Yaitu, isi atau wadah”.

“Adhi Surabaya, kupersilakan engkau memilih duluan!”, kata Panembahan Senopati.
“Kakang Panembahan Senopati, aku memilih isinya dan kakang wadahnya”, jawab Pangeran Surabaya.

“Aku terima dengan senang hati, Adhi Surabaya”, jawab Panembahan Senopati.
Selesai pemilihan tersebut masing-masing pihak membubarkan diri, beserta bala prajuritnya kembali ke kerajaan masing-masing. Begitupun halnya dengan utusan Sunan Giri juga terus kembali dan melaporkan hasilnya. Sunan Giri tersenyum mendengar pelaporan itu, “Ya, sudah benar Panembahan Senopati memilih wadahnya. Sebab wadah itu negara sedangkan isi itu rakyatnya”.
***

Bupati Madiun yang sering disebut Panembahan Madiun bersekutu dengan bupati-bupati Bang wetan yang belum tunduk kepada Mataram. Mereka berniat mau melawan. Sebab mereka beranggapan Panembahan Senopati itu ibarat sebuah nyala api kecil kalau tidak segera disiram air membahayakan dan bisa merembet kemana-mana. Rencana Bupati Madiun yang menghimpun kekuatan untuk mbalela ini diketahui oleh prajurit sandi Mataram lalu dilaporkan kepada Panembahan Senopati.

“Terima kasih atas laporanmu. Aku akan minta pertimbangan Paman Patih Mandaraka”.
Atas saran Ki Patih Mandaraka maka Panembahan Senopati, Ki Patih sendiri dan prajurit segelar sepapan segera berangkat ke Madiun. Ketika mereka sudah berhadapan dengan musuh yang pacak baris di seberang bengawan Madiun hati Panembahan Senopati kedher. Ternyata prajurit lawan jumlahnya berlipat-lipat ganda banyaknya dibanding jumlah prajurit yang mengawalnya dari Mataram,

“Paman Patih, bagaimana ini? Ternyata prajurit lawan begitu banyak jumlahnya. Besar kemungkinan kita bakal keteteran melawannya”, kata Panembahan Senopati judheg.
“Tenang sajalah. Kita datangkan abdi dalem putri Nimas Adhisara yang cantik jelita itu”, jawab Ki Patih Mandaraka. Rupanya patih yang terkenal cerdik ini akan menggunakan tipu muslihat menghadapi Panembahan Madiun. (Akhiyadi)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Dinsos Intensifkan Razia Anjal dan Gepeng

SLEMAN (MERAPI) - Selama bulan puasa ini, Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Sleman mengintensifkan penertiban terhadap anak jalanan (anjal), gelandangan dan

Close