PANEMBAHAN SENOPATI NGLURUG KE BANG WETAN (1) – Gusti Jadi Kawula, Kawula Jadi Gusti

Sutawijaya anak sulung Ki Ageng Pemanahan, menobatkan diri menjadi raja Mataram tahun 1575 dengan gelar Panembahan Senopati. Sebelumnya dia pernah bertemu dengan Sunan Giri yang mewirayatkan (meramalkan) kelak keturunan Pemanahan akan menjadi raja besar di Jawa. Bahkan Pajang dan kedaton Giri juga akan tunduk kepada Mataram. Ini sudah kehendak Allah, besuk akan ada kawula jadi Gusti dan Gusti jadi kawula.

SUNAN Giri mengangguk-angguk, paham. Sekilas senyumnya mengembang di bibirnya, dipandanginya utusan Panembahan Senopati dari Mataram itu,

“Utusan, dalam surat ini Penembahan Senopati gustimu menanyakan wirayat yang dahulu pernah aku sampaikan kepadanya,” kata Sunan Giri.

“Betul, Kanjeng Sunan,” jawab utusan itu.

“Nah, utusan. Katakan kepada Panembahan Senopati, jika beliau ingin membuktikan wirayatku silakan beliau nglurug ke Bang Wetan (Jawa Timur). Sudah menjadi ketentuan Allah bahwa seluruh Tanah Jawa kelak akan dikuasai oleh Mataram. Bahkan nanti Giri juga takluk kepada Mataram. Atas kehendak Allah zaman ini akan berubah, Gusti jadi kawula kawula jadi Gusti persis seperti Pajang dengan Mataram,” kata Sunan Giri menjelaskan.

Utusan dari Mataram itu mengangguk-angguk, mengiyakan. Kemudian dia segera minta pamit pulang akan melaporkan kepada Panembahawan Senopati wirayat Sunan Giri tetap seperti dulu tidak berubah. Kemudian Panembahan Senopati segera bersiap-siap setelah menerima laporan dari utusannya tadi. Beliau mendekati Ki Patih Mandaraka,
“Paman, saya segera berangkat mengirim prajurit ke Bang Wetan untuk membuktikan wirayat Sunan Giri. Rencana saya bulan Muharam nanti, tolong katakan kepada Adipati Demak, Grobogan, dan Pati supaya membantu prajurit dan persenjataan untuk ikut berperang ke Bang Wetan,” kata Panembahan Senopati kepada Ki Patih Mandaraka.

“Baiklah. Pada bulan Mukharam nanti Adipati Demak, Grobogan, dan Pati siap berkumpul di Japan untuk membantu perang menaklukan Bang Wetan,” jawab Ki Patih Mandaraka.

Sesudah tiba saatnya Panembahan Senopati nglurug membawa prajurit segelar sepapan ditambah prajurit-prajurit Kadipaten-kadipaten yang telah ditaklukan sebelumnya. Maka prajurit Mataram itu jumlahnya menjadi berlipat ganda lengkap dengan persenjataannya masing-masing dan berkumpul di Japan.

Ternyata orang-orang Bang Wetan sudah mengetahui kalau ada musuh datang yang kini berkumpul di Japan. Pangeran Surabaya kemudian menghubungi Bupati Tuban,Sedayu, Lamongan, Gresik, Lumajang, Kertasana, Malang, Pasuruhan, Wirasaba, Kediri, Blitar, Pranggabaya, Pragunan, Lasem, Sumenep, dan Pekacangan. Bupati-bupati tersebut diharap segera berkumpul bersama parajuritnya yang bersenjata lengkap. Sebab mereka harus bersatu padu menghadapi musuh yang cukup kuat, Mataram. (Akhiyadi)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Bupati Lebak Meriahkan Fashion Show Seba Baduy 2019

LEBAK (MERAPI) - Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya turut melenggang pada run away dalam pembukaan fashion show sebagai rangkaian dari

Close