Nyadran Agung Pikat Wisatawan Mancanegara

Sejumlah wisatawan mancanegara mengikuti prosesi Nyadran Agung di Kulonprogo. (MERAPI-AMIN KUNTARI)

WATES (MERAPI) – Sebanyak 17 gunungan yang dipersembahkan warga 12 kecamatan, dua BUMD dan Pemkab Kulonprogo dalam acara Nyadran Agung 2019 di depan rumah dinas bupati setempat, Sabtu (27/4), ludes diperebutkan masyarakat. Acara rutin tahunan yang digelar sebelum Ramadan ini sukses menjadi media pemersatu warga, sekaligus sebagai upaya pelestarian budaya.

Nyadran Agung digelar Pemkab Kulonprogo melalui Dinas Kebudayaan setempat. Pelaksanaannya, ditandai dengan kirab gunungan apem, tumpeng, hasil bumi dan hasil produksi masyarakat Kulonprogo dengan rute dari depan Gedung DPRD melewati Gedung Pemkab dan berakhir di depan rumah dinas bupati.

Menariknya, acara Nyadran Agung tidak hanya mengundang antusiasme warga Kulonprogo untuk datang menonton, namun juga dihadiri warga perantau asli Kulonprogo yang tinggal di daerah lain. Belasan turis mancanegara bahkan turut berperan di dalamnya sebagai tamu undangan dengan mengenakan pakaian Jawa.

Kepala Dinas Kebudayaan Kulonprogo, Untung Waluyo mengungkapkan, nyadran berasal dari Bahasa Sansekerta yakni sadran yang artinya korban suci kepada leluhur. Korban suji dimaknakan dalam simbol sesaji beserta doa yang dipanjatkan. Saat ini, acara Nyadran dikemas secara spiritual, sosial dan budaya.

“Secara sosial kita berkumpul saling bersilahturahmi memberikan sedekah kepada masyarakat dengan hasil buminya, kemudian secara budaya kita menciptakan kegotongroyongan. Sementara dari sisi ekonomi, para perantau datang ke Kulonprogo untuk membeli produk daerahnya sehingga terjadi perputaran uang di sini,” kata Untung.

Dalam acara Nyadran Agung, warga Kulonprogo bersama-sama berdoa

dan memohon ampun atas kesalahan yang dilakukan serta memohon kebaikan dan keselamatan. Nyadran menjadi ajang refleksi diri bagi mereka, agar ke depan bisa memperbaiki kehidupan.

Dalam kesempatan ini, Bupati Kulonprogo, Hasto Wardoyo menyampaikan terimakasih atas kehadiran warga perantau, turis mancanegara dan masyarakat sehingga acara Nyadran Agung bisa terselenggara dengan meriah. Melalui acara ini, pihaknya meyakini persaudaraan mereka akan semakin erat.

“Kita memohon kepada Tuhan agar diberikan keselamatan, para leluhur diampuni dosanya, diterima amal ibadahnya, serta masyarakat bisa meneruskan cita-citanya,” kata Bupati Hasto.

Ditambahkannya, nyadran menjadi salah satu warisan budaya yang patut dilestarikan demi menjaga budaya bangsa. Melalui acara ini, dapat dibangun rasa toleransi serta ajang pemersatu warga di semua wilayah.

Sementara itu, Koordinator Bakor PKP, Agus Riyanto mewakili para perantau merasa tersanjung karena masih diundang dalam acara Nyadran Agung Kulonprogo. Selain sebagai upaya pelestarian budaya, acara ini juga bisa menjadi alat pemersatu warga sehingga mereka yang sudah merantau lama bisa bertemu dengan masyarakat Kulonprogo.

“Ada 77 anggota Bakor PKP yang hadir di sini. Kami jadi punya kesempatan untuk bertemu dengan masyarakat Kulonprogo dan berkumpul bersama sanak saudara di daerah asal,” ujarnya. (Unt)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Festival Crossborder Nunukan Dorong Laju Pariwisata di Perbatasan

NUNUKAN (MERAPI)- Sektor pariwisata di perbatasan kian berdetak kencang. Hal ini disebabkan makin masifnya Kementerian Pariwisata berbagai atraksi wisata di

Close