LORO BLONYO, DEWI SRI, PADI, DAN MITOLOGINYA (2) – Pasren Harus Menghadap ke Utara atau Selatan

SEBUTAN dewi sendiri, dimaknai sebagai penghormatan atas sosok (berkelamin wanita) yang tatarannya cukup tinggi di atas manusia lumrah, bahkan dianggap setingkat dewa atau setengah dewa. Pada tataran ini pula sosok dewi selalu diidealisasikan sebagai sosok yang memiliki sifat atau kemampuan yang berlebih yang tidak dimiliki manusia biasa. Demikian pun dengan Dewi atau Mbok Sri.

Pasren merupakan kamar atau ruang yang berisi kasur, bantal, dan guling. Selain itu, ada pula empluk-empluk (gerabah berukuran kecil menyerupai wajan, kuali, kendil, tungku), kecohan (tempat meludah bagi orang yang menguyah sirih), dlupak (lampu minyak dengan sumbu lawe). Kadang dilengkapi juga dengan sepasang bokor, kapstok (cermin berbingkai kayu lengkap dengan gantungan baju), sisir, dan serit. ajug-ajug (lampu berdiri), klemuk (tempat minyak).

Kesemuanya diatur dengan rapi karena kesemuanya dipersembahkan untuk Dewi Sri yang dihormati. Bahkan untuk bantal dan gulingnya bisa berjumlah lebih dari tiga dan disusun bertingkat-tingkat. Selain itu, pada bagian depan pintu kamar pasren biasanya diletakkan dua buah patung yang menggambarkan sepasang pengantin. Patung tersebut dikenal dengan nama Loro Blonyo. Secara ringkas Loro Blonyo dianggap sebagai manifestasi dari Dewi Sri dan Batara Sadana. Ada juga yang menganggap sebagai manifestasi dari Dewi Ratih dan Dewa Kamajaya, yakni dewa cinta atau dewa asmara. Suatu pasangan yang saling melengkapi dan abadi.

Menurut kapercayaan Jawa arah hadap kamar pasren harus ke utara atau selatan. Tidak ada keterangan yang dapat menjelaskan alasannya mengapa mesti demikian. Hanya diduga kedua arah tersebut merupakan dua arah mata angin yang disakralkan. Arah utara selalu dikaitkan dengan gunung, tempat yang tinggi dan selatan adalah selalu diasosiasikan dengan laut. Gunung dan laut mewakili kekuatan lahiriah sekaligus magis yang diharapkan bisa bersatu dan menjadi daya tertentu bagi keamanan, kesejahteraan, dan kenyamanan kehidupan. Dua arah ini juga dianggap sebagai dua arah yang mewakili kelelakian (utara) dan keperempuanan (selatan).

Kecuali itu, arah utara-selatan bagi arah hadap rumah atau kamar di Jawa dianggap sebagai arah yang paling ideal sebab dengan arah yang demikian penghuni rumah atau orang yang tinggal di kamar tidak akan pernah menatap matahari langsung yang terbit di timur maupun yang akan mulai tenggelam di sisi barat. Jadi sengatan panas matahari dan kesilauan sinarnya tidak akan mengganggu penghuni rumah. (Albes Sartono)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Tarik Pengunjung ATM Dubai 2019, Kemenpar Gencarkan Promosi

JAKARTA (MERAPI) – Arabian Travel Market (ATM) kembali digelar. Kali ini, kegiatan dipusatkan di Dubai International Convention and Exhibition Center,

Close