LORO BLONYO, DEWI SRI, PADI, DAN MITOLOGINYA (1) – Sebutan Simbok Lambang Kedekatan Anak dengan Ibu

DALAM komponen ruang rumah Jawa tradisional, terdapat ruang yang dinamakan Pasren. Pasren merupakan salah satu ruang khusus yang disakralkan dalam rumah Jawa tradisional. Ruang Pasren menempati posisi tengah dari ruang-ruang yang lain. Oleh karenanya Pasren juga disebut dengan nama senthong tengah. Senthong tengah disebut Pasren karena senthong ini merupakan sebuah ruang atau kamar yang memang dikhususkan untuk penghormatan atau pemujaan kepada Dewi Sri.

Dewi Sri dalam masyarakat Jawa juga dikenal dengan sebutan Mbok Sri. Disebut demikian karena Dewi Sri merupakan sosok mitologis yang dirasakan begitu dekat dengan hati masyarakat Jawa, khususnya kaum tani. Sifat mbok atau simbok yang pemurah, welas asih, pemaaf, dan melindungi inilah yang dipuja masyarakat Jawa. Bahkan istilah atau sebutan simbok dalam masyarakat Jawa juga sering dimaknai sebagai sing gawene tombok (yang selalu menombok). Istilah simbok juga mengindikasikan tentang kemuliaan makhluk pemilik rahim yang melindungi, menumbuhkan, merawat, dan mencintai sepenuh jiwa jabang bayi yang berlindung di dalamnya. Pada sisi lain simbok juga dimaknai sebagai si gembok. Kata atau istilah gembok mengacu pada pengertian alat kelamin perempuan.

Penyembutan simbok atau si gembok dalam khasanah kebudayaan Jawa dan banyak kebudayaan yang lain menyatakan betapa dekat hubungan anak dengan ibunya. Oleh karena itu yang disebut adalah organ yang paling rahasia. Kepalingrahasiaan ini hanya dimiliki dalam hubungan yang paling mesra, paling dekat, paling rahasia, paling privat. Semacam hubungan cinta kasih yang tidak terpisahkan. Oleh karena itu pula penyebutan simbok pada anak di Jawa adalah thole (untuk anak laki-laki) dan wuk (untuk anak perempuan).

Thole adalah kependekan dari kata guthule (alat kelamin laki-laki) dan wuk adalah kependekan kata untuk penyebutan alat kelamin wanita. Ada juga penyebutan lik atau nang untuk menyebut anak laki-laki. Lik untuk penyebutan anak laki-laki mengindikasikan atau mengimajinasikan tentang alat kelamin laki-laki yang masih bocah. Ia kecil dan sekaligus indah serta perlu dan selalu dikasihi. Sedangkan sebutan nang mengindikasikan tentang penegasan akan arti kelelakian bagi si anak yang disebut demikian.

Selain itu, ada pula sebutan ndhuk dan nok untuk anak perempuan. Ndhuk dari kata si gendhuk. Gendhuk dimaknai sebagi sebutan yang akrab, dekat, penuh kasih pada anak perempuan. Gendhuk dalam pengertian lain juga dianggap sebagai orang (gadis muda) yang “selalu ada” dekat dengan seseorang (bisa orang tua, famili, atau majikan). Gendhuk adalah bagian yang tidak terpisahkan dari orang-orang tersebut di atas. Sedangkan sebutan nok merujuk pada alat vital anak perempuan yang paling rahasia, indah, mengindikasikan kesuburan yang baik, akrab atau intim. (Albes Sartono)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Ciplukan Sebagai Rival Epilepsi

TANAMAN ciplukan mempunyai ciri fisik cukup khas dan tampak bersahaja. Meski demikian, ciplukan diyakini termasuk jenis tanaman yang memiliki khasiat

Close