PASANG SURUT KASULTANAN CIREBON (1) – Ki Gedeng Alang-alang ‘Cikal Bakal’ Keraton Cirebon

PERJALANAN panjang sebuah negeri pesisir Kasultanan Cirebon, kala itu berada di tengah himpitan kekuatan besar yakni Banten dan Mataram. Menarik untuk disimak, karena kekuasaannya bisa berkembang. Hingga datanglah VOC yang memicu surutnya kemegahan kasultanan Cirebon, meski juga harus diakui karena faktor konflik internal para sentana dalem membikin makin pudar keberadaannya. Bagaimana awal kisah terwujudnya kasultanan Cirebon ?

Dalam buku Babad Tanah Jawi disebutkan, sekitar tahun 1445 seorang saudagar dari Muara Jati bernama Ki Gedeng Alang-alang berhasil membuka hutan alang-alang di wilayah Lemahwungkuk. Nama Ki Gedeng Alang-alang diambil dari keberhasilannya membuka hutan alang-alang yang dulunya lebat dan rimbun. Kemudian mendirikan sebuah rumah kecil sebagai tempat tinggal, sejak saat itulah para pendatang mulai meramaikan wilayah Lemahwungkuk. Karena para pendatang beraneka ragam asal dan kemahirannya, maka Ki Gedeng Alang-alang menamakan desa itu adalah Caruban yang artinya campuran dan Ki Gede Alang-alang sebagai akuwu atau kepala desa.

Selang lima tahun Pangeran Cakrabuana atau Raden Walangsungsang bersama isteri datang ketempat itu, Raden Walangsungsang adalah putera pertama Prabu Siliwangi dengan Nyi Mas Subanglarang (anak Ki Gede Alang-alang), dengan demikian Raden Walangsungsang adalah cucu Ki Gede Alang-alang.

Kedatangan Raden Walangsungsang adalah untuk berdakwah agama Islam ke wilayah Lemahwungkuk dan sekitarnya, ajaran Islam itu sendiri diperoleh Gunung Jati.

Selama di Lemahwungkuk Raden Walangsungsang diangkat menjadi wakil akuwu oleh masyarakat. Bersama keluarga Ki Gedeng Alang-alang, Raden Walangsungsang dan isteri bekerja mencari rebon atau udang kecil di pinggir pantai utara laut Jawa. Udang kecil itu nantinya akan dibuat terasi dan petis untuk dijual kepada para pendatang. Makin hari produk olahan keluarga Raden Walangsungsang semakin kondang, tidak hanya wilayah Lemahwungkuk saja namun hampir meluas ke wilayah Sunda. Bahkan pedagang Cina, Arab dan lain sebagainya semakin meramaikan perdagangan terasi dan petis dari udang rebon tersebut. Dari situlah wilayah kecil itu dikenal sebagai Carbon, yang berasal dari kata ‘cai’ artinya air dan ‘rebon’ udang kecil. Lama-kelamaan wilayah itu disebut dari kata Carbon menjadi Cirebon, inilah ‘cikal bakal’ kota dan kabupaten Cirebon.

Ketika Ki Gedeng Alang-alang meninggal dunia, atas kesepakatan warga Raden Walangsungsang ditetapkan sebagai akuwu Lemahwungkuk. Dalam perkembangannya, Raden Walangsungsang menginginkan tata pemerintahan lokal, dibentuklah bangunan keraton berikut pengawal dan segala kelengkapannya. Keraton itu bernama Pakungwati, itu terjadi sekitar tahun 1452 dan mulailah Cirebon dengan keraton Pakungwati mempunyai pusat pemerintahan lokal dan Raden Walangsungsang dengan nama Cakrabuana sebagai raja pertama.(Ki Sabdo Dadi)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Ayo! Ke Karangasem, Banyak Tempat Wisata yang Mengagumkan

KARANGASEM (MERAPI)- Kunjungan peserta familiarization trip (famtrip) asal Filipina ke Bali tak lengkap rasanya bila belum mengunjungi wisata sejarah (heritage)

Close