PERJALANAN EMPU LINUWIH (3-HABIS) = Keris Dapur Sewu Naga Sasra Bernama Segara Wedang

BETAPA girangnya hati Si Enom, secara bersamaan ditemui oleh orang-orang yang dirindunya. Semakin riang hatinya begitu menerima biji besi bahan keris yang diberi Sunan Kalijaga. Maka arahan untuk menempa biji besi itu di tengah laut pun dengan suka cita dilakukan. Bahkan petunjuk yang diberikan Kanjeng Sunan Kalijaga, agar keris yang dibikin hendaknya meniru pasikonnya keris Sengkelat, dilaksanakan sungguh-sungguh.

Kesaktian Si Enom sedang diuji. Biji besi berasal dari alam kodrad sebenarnya merupakan simbolik yang harus diurai oleh seorang empu muda. Sebagai cucu dari seorang empu pilih tanding di Majapahit Supadriya dan anak dari empu pembuat keris dapur Sengkelat, pastinya Si Enom memiliki kemampuan yang ngedap-edapi begitu kurang lebih bahasanya. Dalam pandangan batin Sunan Kalijaga, anak ini mampu mengurai kemelut dan gempuran ombak lautan yang dahsyat untuk melahirkan sebuah pusaka yang memiliki tuah sakti.

Dengan mengerahkan segala kemampuannya, kekuatan fisik serta laku batin yang didasari pada keyakinan untuk menjadi seorang abdi yang taat dan patuh pada titah sang nata, Si Enom tidak memperdulikan dirinya lagi. Hantaman sikutnya digunakan untuk terus menempa biji besi pemberian Sunan Kalijaga, dengkulnya menjadi alas pande sikutnya. Kekuatan yang kemudian keluar menjadi energi luar biasa yang kemudian menjadikan air laut bagai mendidih, bergemuruh dan meluap-luap bagai menelannya.

Kekuatan alam bagai berkolaborasi dengan kekuatan spiritual seorang bocah yang belum tuntas betul masa kanaknya, namun memiliki kemampuan luar biasa dan linuwih. Selain membuat kagum uwaknya Kanjeng Sunan, kiprah yang nyaris nggegirisi membuat empu Supa ayahnya merinding melihat keampuhan anak kandungnya itu.

Dalam babad Demak dikisahkan proses pembuatan keris yang spetakuler itu berjalan tidak begitu lama, namun dari prosesi itu seluruh alam bagai ikut terlibat dalam hajad sang empu muda. Tidak seberapa lama, Si Enom kemudian ke luar dari dalam laut dengan membawa dua bilah keris yang nyaris sama besar-kecilnya, begitu juga jumlah luknya sama persis dengan keris Sengkelat berjumlah 13. Hanya saja pada gandik depan berupa bentuk kepala ular naga Jatingarang dengan tubuhnya mengikuti sepanjang bilah dan ekor yang nyaris sampai menyentuh ujung bilah keris.

Kedua keris itu oleh Si Enom lantas diserahkan kepada Kanjeng Sunan Kalijaga, setelah diamati dan diteliti lantas diberikan kepada empu Supa. Masih dengan penuh kekaguman, Sunan Kalijaga berkata, “Tole keris ini bisa kau serahkan pada Prabu Brawijaya, kalau sang nata bertanya katakan ini dapur Nagasasra juga bisa dinamai dapur Wisnu dan sebaiknya diberi nama Segara Wedang. Karena ketika membuatnya lautan menjadi mendidih terkena pengaruh panas proses penempaannya.”

Setelah memberikan pengarahan seperlunya, Sunan Kalijaga meminta agar empu Supa ikut mengantar keris Nagasasra bersama anaknya Si Enom menuju Majapahit. Karena Kanjeng Sunan Kalijaga khawatir bila empu Supa tidak ikut ke Majapahit, akan dianggap telah melalaikan kewajibannya sebagai salah seorang empu di kerajaan itu. Sementara kedua bapak anak itu menuju kerajaan Majapahit, Sunan Kalijaga sendiri menuju arah yang berlawanan ke Demak Bintara untuk menyerahkan keris Sengkelat kepada Raden Patah.

Sesampai di Majapahit Prabu Brawijaya sangat berkenan dengan keris bikinan Si Enom, sesuai dengan yang pernah dijanjikannya bila Si Enom mampu membuat keris dapur sewu bagi raja maka akan diberi jabatan sebagai patih. Namun karena usia Si Enom yang masih terlalu muda, sehingga dipandang belum mampu mengemban jabatan menggantikan patih Gajahpremada yang selama satu tahun menghilang karena diutus mencari empu yang lunuwih. Sebagai gantinya Si Enom diwisuda menjadi Bupati Tuban. (Teguh)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Gempur Jerawat dengan Pukul Empat

KEMBANG atau bunga pukul empat termasuk tanaman yang bisa difungsikan sebagai tanaman hias dan obat. Jika sebagai tanaman obat alami,

Close