KRT PUSPONEGORO I PENASIHAT MILITER PANGERAN DIPONEGORO (3) – Tak Mau Ziarah, Ditegur Lewat Mimpi

KRT PUSPONEGORO I PENASIHAT MILITER PANGERAN DIPONEGORO (3) - Tak Mau Ziarah, Ditegur Lewat Mimpi

BERKAITAN dengan akan dipugarnya makam KRT Pusponegoro I di Beran, Seyegan, Sleman, ada fenomena yang cukup menarik sehubungan dengan trah atau keturunan KRT Pusponegoro I. Menurut Sukirman yang menjadi jurukunci setempat, pada masa lalu ada salah satu anggota trah dari KRT Pusponegoro I yang tinggal di Banyumas sering dolan ke Yogya. Hanya saja orang tersebut jarang sekali menengok atau menziarahi makam KRT Pusponegoro I. Tidak ada alasan yang jelas mengapa orang yang masih merupakan salah satu trah dari KRT Pusponegoro I itu terkesan malas menziarahi makam leluhurnya.

Akan tetapi pada suatu saat orang ini bermimpi. Inti dari mimpi tersebut berupa teguran dari KRT Pusponegoro I. KRT Pusponegoro I yang lebih populer disebut Eyang Pusponegoro ini dalam alam mimpi menegur dan bertanya kepadanya, mengapa ia tidak pernah menjenguknya. Padahal toh dirinya sering dolan ke Yogya. Apa salahnya sekadar mampir berziarah ke makam leluhurnya. Demikian isi teguran tersebut.

Akan tetapi orang ini tidak begitu memperhatikan mimpi tersebut. Ia menganggap bahwa mimpi tersebut ngayawara

(isapan jempo belaka). Lebih-lebih perwujudan sosok orang yang menegurnya dalam mimpi tersebut baginya sungguh tidak begitu jelas. Agak lama mimpi itu dilupakan atau diabaikannya. Sekalipun demikian, orang tersebut tetap sering melakukan perjalanan dari Banyumas ke Yogya dan sebaliknya. Pada lain waktu orang ini kembali bermimpi dengan isi mimpi yang sama seperti mimpi yang didapatkanya pertama kali. Bahkan mimpi berikutnya ini terjadi berkali-kali dalam beberapa malam.

Didesak oleh rasa penasaran dan tidak tenteram di hati, orang tersebut akhirnya mencoba mendatangi makam leluhurnya dengan terlebih dulu mengajak Sukirman selaku jurukunci setempat. Di kompleks makam leluhurnya inilah orang tersebut lantas melakukan semadi. Ia berdoa agar arwah leluhurnya, yakni Eyang Pusponegoro I ini diampuni dari segala dosanya sehingga dapat hidup tenteram di sisi Tuhan.

Kecuali itu ia juga mendoakan arwah para pepundhennya yang lain yang juga dimakamkan di tempat ini. Orang tersebut kemudian juga melakukan tirakat di tempat ini selama tiga malam berturut-turut. Pada suatu malam ia merasa kejatuhan seperti benda yang terasa dingin di kulitnya. Benda tersebut secara tepat menjatuhi betisnya yang telanjang (tidak tertutup selimut atau celana panjang). Orang ini pun lantas terbangun karena terkejut. Ia kemudian mencari-cari benda tersebut yang menjatuhi kakinya. Ternyata ia mendapatkan sebuah batu akik. Batu akik itu pun kemudian dirawatnya baik-baik.

Selang beberapa bulan kemudian salah satu trah Eyang Pusponegoro I yang semula enggan berziarah ini diterima bekerja pada sebuah instansi yang cukup bergengsi. Orang ini justru merasa heran di samping tentu saja sneang dan bersyukur atas semuanya itu. Semua itu menurutnya tidak lepas dari berkah Eyang Pusponegoro I yang telah menegurnya melalui beberapa kali mimpi dan kemudian secara gaib memberinya sebuah batu aji. (Albes Sartono)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
ilustrasi
Accu Lampu Bangjo Marak Dicuri

BANTUL (MERAPI)- Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Bantul bakal meningkatkan pengawasan terhadap keberadaan Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas (APILL) atau lampu

Close