KRT PUSPONEGORO I PENASIHAT MILITER PANGERAN DIPONEGORO (2) – Pusaka Tombak Hanya Milik ‘Jalma Pinilih’

PUSAKA ampuh peninggalan KRT Pusponegoro I akhirnya dibeli oleh seseorang dari Surakarta. Sekalipun demikian, pada masa-masa berikutnya pusaka ini sering mrimpeni ‘datang dalam mimpi’ kepada cucu-cicit KRT Pusponegoro I. Mimpi tersebut biasanya berupa gambaran munculnya seekor ular naga yang berukuran besar dan seolah-olah datang dengan wajah sedih serta ingin ikut pada orang yang kedatangan mimpi tersebut. Anehnya pula, mimpi tersebut dialami oleh lebih dari 3 orang keturunan atau trah KRT Pusponegoro I. Corak atau gambaran mimpi ini pun hampir selalu mirip antara orang yang satu dengan orang yang lainnya.

Menurut dugaan, mimpi-mimpi yang demikian itu memberikan pertanda bahwa tombak pusaka peninggalan KRT Pusponegoro I ini sebenarnya ingin kembali atau rindu kepada darah asli keturunan tuannya, KRT Pusponegoro I. Hanya saja sampai sekarang tampaknya memang belum ada yang dicocoki oleh pusaka tersebut. Sebagian besar keturunan KRT Pusponegoro I juga percaya bahwa pada suatu saat nanti tombak tersebut pasti kembali pada trah KRT Pusponegoro I.

Fenomena tidak kuatnya sembarang orang untuk ketempatan pusaka tombak dari KRT Pusponegoro I ini juga menjadi petunjuk bahwa pada masa lalu KRT Pusponegoro I merupakan jalma pinilih

(sosok pilihan). Lebih-lebih lagi ia memiliki lebih dari satu pusaka yang dikenal demikian ampuh atau sakti. Tidak mengherankan jika ia kemudian dijadikan salah satu pengatur strategi militer dari pasukan Pangeran Diponegoro. Kesetiaan KRT Pusponegoro I pada Pangeran Diponegoro dan pihak Keraton Yogyakarta mengakibatkan ia diberi tanah di Gunung Wungkal, Beran, Margodadi, Seyegan, Sleman yang di kemudian hari dijadikannya bukit untuk peristirahatannya yang terakhir bersama keturunannya.

Berkaitan dengan kondisi kompleks makam ini dulu di depan makam pernah ditempatkan patung singa sebanyak dua buah. Penempatan patung singa ini diduga ada kaitannya dengan salah satu kelebihan KRT Pusponegoro I dalam hal olah kanuragan atau kadigdayan. Penempatan patung singa ini diduga merupakan satu gambaran bahwa KRT Pusponegoro I dulunya memiliki semacam ajian macan putih atau ajian senggara (gertakan) macan. Hal semacam itu pada masa lalu bukanlah merupakan sesuatu yang mustahil mengingat orang-orang pada zaman itu kebanyakan memang senang berlaku prihatin atau olah kanuragan serta guna kasantikan.

Hal itu juga logis mengingat pada waktu itu Tanah Jawa sedang dilanda perang besar dan lama, yakni Perang Jawa. Perang ini dalam banyak catatan sejarah yang melibatkan hampir seluruh orang atau masyarakat Jawa. Setidaknya masyarakat Jawa ikut menanggung akibat atau konsekuensinya. Dalam situasi demikian pusaka ampuh dan semacam aji-aji atau jimat menjadi amat bermanfaat untuk bekal maju ke medan perang atau mengatasi berbagai kesulitan.

Kompleks makam KRT Pusponegoro I di Beran, Seyegan, Sleman ini pada tahun 1960-an tampak terbengkalai dan kotor Demikian menurut sumber setempat. Orang pun banyak yang takut bila akan mendatangi tempat ini. Di samping karena kondisinya yang penuh dengan semak dan daun kering, lokasi ini pada masa itu juga relatif sulit dijangkau karena jalannya belum bagus serta letaknya yang berada di atas puncak Gunung Wungkal. Untunglah, ada inisiatif dari trah Pusponegaran untuk membangun sambil mengumpulkan anggota trah. Lambat laun makam ini diperbaiki dan sekarang kompleks ini jauh lebih kelihatan tertata, bersih, rapi, dan sejuk. (Albes Sartono)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Kucai Sebagai Anti Hipertensi

TANAMAN kucai mempunyai nama ilmiah Allium schoenoprasum. Aroma daun-daunnya cukup khas dan sedap, sehingga biasa dijadikan pendukung bumbu masakan favorit,

Close