TERCIPTANYA KERIS KYAI KANJENG PAKUMPULAN (2) – Ikut Menghadiri Penobatan Ratu Wilhelmina

PADA tahun 1820 Sinuhun Paku Buwono lV wafat, putera mahkota menggantikan kedudukan sebagai raja. Sayang Paku Buwono V memerintah tidak lama, karena pada tahun 1823 wafat. Suksesi kepemimpinan dilanjutkan putera mahkota, yang waktu itu baru berusia 16 tahun. Bagaimana tindakan raja yang masih muda belia ini terhadap pemerintahan Belanda?

Dalam Babad Tanah Jawi disebutkan, Paku Buwono VI juga seorang muslim yang taat akan agamanya. Ternyata seperti eyangnya terdahulu (Paku Buwono lV), raja muda ini juga selalu mengambil sikap menentang Kumpeni Belanda yang selalu ingin mencapuri urusan keraton. Kumpeni Belanda jelas semata-mata ingin memperluas wilayah jajahan, karena sikapnya yang selalu semena-mena terhadap rakyat maka menimbulkan kebencian yang mendalam di kalangan rakyat termasuk Pangeran Diponegoro di Yogyakarta melakukan perlawanan.

Paku Buwono VI pun tidak tinggal diam, beliau selalu membantu dan mendukung perlawanan Pangeran Diponegoro yang semakin meluas di wilayah Mataram. Sinuhun Paku Buwono VI sangat membenci Kumpeni Belanda, sering kali raja mengadakan pertemuan rahasia dengan Pangeran Diponegoro juga memberikan bantuan kebutuhan perang.

Nah, dalam suasana yang berkecamuk itulah, Paku Buwono VI memerintahkan Mpu Singowijoyo untuk melebur paku-paku masjid yang dulu dikumpulkan zaman Paku Buwono lV, agar dibuat sebuah pusaka yang ampuh, wingit dan sakti mandraguna untuk dijadikan pusaka piyandel. Karena terbuat dari kumpulan paku-paku masjid yang dikumpulkan oleh Paku Buwono lV dahulu, maka pusaka yang berujud keris itu lantas dinamakan keris Kanjeng Kyai Pakumpulan. Keris tersebut menjadi salah satu pusaka keraton Surakarta Hadiningrat, dan disimpan di gedhong pusaka. Sedangkan bekas kulit bedhug yang dikumpulkan dimanfaatkan untuk membuat wayang kulit, yang di kemudian hari dinamakan Kanjeng Kyai Jimat.

Syahdan, ketika Pangeran Diponegoro ditangkap Belanda pada tahun 1830, Belanda mencoba menekan Paku Buwono VI agar mau melepas beberapa wilayahnya. Namun Paku Buwono VI menolak, dan meninggalkan keraton melakukan perjalanan keliling wilayah. Dianggap memberontak, Paku Buwono VI ditangkap kemudian dibuang ke Ambon sampai wafat.

Ketika suasana damai hingga Belanda dikalahkan Jepang pada tahun 1942, cucu Paku Buwono VI yakni Raden Mas Duksino naik tahta bergelar Paku Buwono X. Di Belanda sedang dilakukan penobatan Ratu Wilhelmina, dan Paku Buwono X diundang untuk menghadiri. Karena tidak bisa hadir langsung, Paku Buwono X mengutus puteranya yakni Kanjeng Gusti Suryohamijoyo untuk mewakili. Dan sebagai tanda kehadiran Paku Buwono X, beliau memberikan keris pusaka keraton Kanjeng Kyai Pakumpulan untuk dipakai pada waktu menghadiri penobatan Ratu Wilhelmina. Itulah salah bukti bahwa keris pusaka Kanjeng Kyai Pakumpulan termasuk keris pusaka keraton, yang dulunya dibuat dengan bahan paku-paku dari bedhug masjid dikumpulkan tatkala pemerintahan Paku Buwono lV. Dan itu sebagai simbol kedekatan raja dengan ulama pada waktu itu.(Ki Sabdo Dadi)



Pin It on Pinterest

Read previous post:
KERIPIK ANEKA DAUN – Bayam Sampai Sirih Panenan Sendiri

ANEKA jenis daun dapat diolah menjadi keripik, misalnya bayam, kersen (talok), kangkung, kemangi dan sirih. Penggemar beberapa jenis keripik ini

Close