PENGEPUNGAN MATARAM ATAS BATAVIA 1628 DAN 1629 (10-HABIS) – Panglima Perang Dihukum karena Gagal Menang

ENGEPUNGAN MATARAM ATAS BATAVIA 1628 DAN 1629 (10-HABIS) - Panglima Perang Dihukum karena Gagal Menang

PADA tulisan berikutnya, sejarawan de Graaf menulis panjang lebar mengenai panglima-panglima Mataram yang secara tragis menerima hukuman mati dari raja. Di antaranya adalah panglima-panglima yang tidak gugur di medan perang dalam pengepungan Batavia yang I dihukum mati. Tanggal 1 Desember 1628 Tumenggung Sura Agul-agul menyuruh mengikat Kyai Adipati Mandurareja dan Kyai Adipati Upasanta bersama pengikut-pengikutnya kemudian membunuhnya. Apa yang dilakukannya atas dasar pengadilan dan perintah raja Mataram, karena Batavia tidak dikuasai atau ataupun diperjuangkan sampai mati.

Pelaksanaan hukuman mati kepada dua bersaudara ini dipandang menarik perhatian karena keduanya adalah keturunan Patih Mandaraka yang termasyhur, pembantu atau penasihat utama Panembahan Senopati. Tewasnya cucu-cucu Patih Mandaraka ini telah menimbulkan keresahan di dalam dan di luar istana Mataram. Sebab tersiar berita bahwa raja atau Sultan Agung tidak bertanggung jawab atas pembunuhan cucu-cucu Patih Mandaraka ini. Ketika Tumenggung Sura Agul-agul pulang dari Batavia sebagai pasukan yang kalah, dalam analisa de Graaf disebutkan bahwa seolah-olah Sultan Agung berkata bahwa yang dimaksudkan bukanlah membunuh Kyai Adipati Mandurareja dan Kyai Adipati Upasanta, namun pengikut-pengikutnya. Untuk itu Tumenggung Sura Agul-agul harus menebus kekeliruan yang fatal itu. Ia bersama para bangsawan dan pengikut lain harus dihukum mati. Tumenggung Sura Agul-agul dihukum mati karena kekeliruan fatalnya, sedangkan para bangsawan dihukum mati karena tidak membuat kemenangan.

Berbeda dengan para panglima perang dalam pengepungan pertama, panglima dalam pengepungan kedua di tahun 1629 yang juga kalah perang, mengalami nasib yang lebih baik. Seorang pejabat tinggi Belanda, Rijcklof van Goens yang kelak juga berhubungan akrab dengan Sunan Amangkurat I (putra Sultan Agung), menuliskan agak panjang tentang kembalinya Patih Singaranu dalam Gezantschapsreizen. Ia menuliskan bahwa semua gerbang menuju Mataram atas perintah Sultan Agung semuanya dijaga ketat pasca pengepungan pertama dan kedua yang gagal itu. Dengan demikian, para panglima yang kembali ke Mataram tidak bisa kembali lagi kepada keluarganya untuk menerima hukuman mati.

Patih Singaranu yang melihat gelagat ini menahan sisa pasukannya yang kalah dari Batavia dalam jumlah 14.000 orang. Sebagian besar dari pasukannya ini terdiri dari rakyat atau kawulanya sendiri yang dikumpulkan dari daerah-daerah yang diberikan kepadanya oleh Raja Mataram. Dengan kekuatan yang besar ini Patih Singaranu bisa melewati semua gerbang Mataram sambil melumpuhkan semua penjaga apabila diperlukan. Hal ini dilakukannya sampai ia bisa masuk ke rumahnya sendiri (kepatihan) yang dulu didirikan oleh Raja untuknya. Dengan pengikutnya yang banyak ia menarik diri di bali tembok-tembok yang luas. Dengan demikian, ia mengambil sikap seperti mengancam kedudukan istana Raja. Itu dilakukannya karena ia melihat kondisi para panglima dalam pengepungan terdahulu yang gagal dan akhirnya harus menerima kematian atas kegagalannya itu.

Selain mengambil sikap demikian, Patih Singaranu juga mengirimkan istri-istri, selir-selir, dan anak-anaknya kepada Raja untuk menebus kesalahannya. Sebab biasanya sebagian dihukum untuk menyelamatkan keseluruhannya. Selain itu, ia juga mengirimkan senjata-senjatanya kepada Raja. Semua itu dilakukannya sebagai tanda bahwa ia benar-benar akan tunduk kepada keputusan Raja. Dengan demikian pula seorang Raja dapat menunjukkan kemurahan hatinya, lebih-lebih menurut van Goens karena putri Patih Singaranu merupakan putrid tercanti dak termanis di antara istri-istri Raja dan istri ini dapat mengetuk hati Raja untuk mengampuni keluarga besar ayahnya (Patih Singaranu). Akhirnya Raja (Sultan Agung) menyuruh semua istri, para selir, dan anak-anak Patih Singaranu untuk kembali pulang dan mempertahankan Patih Singaranu dalam jabatan dan kedudukannya dengan syarat ia tidak diperbolehkan berhadapan muka dengan Raja selama tiga tahun. Peristiwa ini tidak asja menyelamatkan nyawa Patih Singaranu beserta keluarga dan rakyatnya, namun juga nyawa teman-teman sejawatnya yang menyertainya dalam perang di Batavia, di antaranya adalah Raden Aria Wiranatapada dan Kyai Adipati Sumenep. (Albes Sartono)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
BANGUN JEMBATAN GANTUNG – Dandim Sleman Wujudkan Mimpi Warga Karang Wetan

BERBAH (MERAPI) - Rangkaian safari Jumat Kodim 0732/Slm di wilayah Koramil 10/Berbah Dsn. Karang wetan Ds. Tegaltirto Kec. Berbah Kab.

Close