PENGEPUNGAN MATARAM ATAS BATAVIA 1628 DAN 1629 (8) – Pangeran Purbaya Berjaya di Laut

CERITA tentang pengepungan Batavia oleh Mataram sebanyak dua kali ini di dalam cerita tutur Jawa dikisahkan panjang lebar yang sebagian besar termuat dalam buku-buku babad atau serat seperti, Babad Momana, Babad Tanah Djawi, Babad Sengkala, Serat Kandha, bahkan Babad Mangir. Dalam babad tersebut di antaranya disebutkan bahwa Sultan Agung memerintahkan Pangeran Mandurareja untuk menaklukkan Jakarta karena telah diduduki Belanda dan yang bupatinya telah dikalahkan dalam pertempuran.

Pangeran Mandurareja mengerahkan orang-orang pesisir dan Bupati Sampang serta Gresik ditugaskan bertempur di laut. Segala strategi diatur di Cirebon dan orang-orang Sunda menggabungkan diri di tempat ini. Mereka berlabuh di depan Batavia dan semua orang tunduk pada Pangeran Mandurareja sehingga yang tinggal hanyalah para pegawai Kumpeni yang tinggal di dalam benteng. Semua meriam, granat, dan bom telah disiapkan Mataram. Di pihak Batavia terjadi kekacauan besar. Tidak seorang pun berani keluar benteng sementara pihak Mataram masih menunggu kedatngan Adipati Sampang yang berlayar melalui laut.

Sultan Agung juga mengirimkan pamannya, Pangeran (Panembahan) Purbaya. Raja berpesan kepada pamannya agar menjaga dan mengawasi yang berperang. Namun janganlah berperang dengan sungguh-sungguh, timbulkan saja rasa takut pada pihak Belanda. Jangan membawa terlalu banyak prajurit dan berangkatlah diam-diam melalui laut. Pangeran Purbaya menaiki kapal yang dinamakan Kala Duta di Jepara. Mungkin oleh karena itu pengepungan Batavia sebanyak dua kali oleh Jawa (Mataram) sering dikenal juga dengan nama Ekspedisi Kala Duta. Perjalanan Pangeran Purbaya diserta 46 orang. Perjalanan mereka cepat dan selamat. Pangeran Mandurareja merasa jengkel dengan pengiriman Pangeran Purbaya karena mungkin merasa tidak dipercaya secara penuh oleh raja. Ia segera memerintahklan penyerbuan. Penyerbuan dahsyat terjadi oleh pasukan Jawa yang maju perang sambil berteriak-teriak. Ketika malam tiba pertempuran yang mengerikan dihentikan. Pada malam itu juga armada Sampang datang dengan meriam-meriamnya. Dalam pertempuran selanjutnya Belanda mengalami kekalahan besar.

Disebutkan juga bahwa Pangeran Purbaya mengalahkan Belanda dalam pertempuran di laut. Pangeran Purbaya ditembaki dari tiga buah kapal Belanda namun kapalnya terus melaju dan menabrak salah satu kapal Belanda sehingga kapal Belanda tersebut hancur. Dua kapal Belanda lainnya melarikan diri. Pertempuran beralih ke darat. Pangeran Purbaya terus ditembaki Belanda tetapi tidak mengenainya. Perang artileri darat terjadi dengan dahsyat. Kedua belah pihak mengalami kerugian besar. Belanda mulai kekurangan mesiu dan mereka kemudian menggunakan tinja sebagai amunisi. Hal ini membuat banyak prajurit Jawa merasa sangat jijik dan muntah-muntah. Peristiwa ini sering dikait-kaitkan dengan nama Batavia yang kemudian dikenal juga dengan Betawi. Dalam banyak cerita tutur nama Betawi konon berasal dari kata-kata pasukan Jawa yang kelimpungan ditembaki Belanda dengan amunisi berupa tinja. Mereka berteriak-teriak,”Mambet tai, mambet tai….” yang kemudian dipercayai menjadi cikal bakal nama Betawi. Kebenaran penamaan akan toponimi ini tentu perlu dikaji lebih mendalam oleh ahli untuk dapat menemukan buktinya.

Pangeran Purbaya terus ditembaki oleh Belanda namun ia kebal. Ia bahkan menunjukkan kesaktiannya dengan menabrakkan diri ke benteng Belanda yang kemudian jebok seukuran tubuhnya. Ia bahkan terbang dan menghilang. Keesokan paginya Adipati Baureksa menyerbu benteng tetapi ia menderita luka pada lengan kiri karena tembakan musuh. Pangeran Mandurareja dengan sekuat tenaga melanjutkan pertempuran, namun amunisi Belanda berupa tinja sangat mengganggu sehingga operasi tidak mungkin dilanjutkan. Dalam pertempuran itu lebih banyak orang yang tewas daripada yang hidup. Prajurit Jawa banyak yang melakukan desersi, akan tetapi pihak Belanda pun kehilangan tiga dari empat brigadenya dan orang-orang Belanda gemetar ketakutan. (Albes Sartono)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Bupati Karanganyar Dapat Penghargaan DMI

KARANGANYAR (MERAPI) – Dinilai peduli kemakmuran masjid, Bupati Karanganyar, Juliyatmono menerima penghargaan dari Dewan Masjid Indonesia (DMI) Propinsi Jawa Tengah.

Close