PENGEPUNGAN MATARAM ATAS BATAVIA 1628 DAN 1629 (7) – Pasukan Jawa Terancam Bahaya Kelaparan

PENGEPUNGAN MATARAM ATAS BATAVIA 1628 DAN 1629 (7) - Pasukan Jawa Terancam Bahaya Kelaparan

PADA tanggal 17 September 1629, Gubernur Jenderal Jan Pieter Zoon Coen masih sempat meninjau pertahanan musuh, namun pada 20 September malam ia mendadak jatuh sakit dan meninggal pada jam 01.00 dinihari. Tanggal 22 September 1629 JP Coen untuk sementara dimakamkan di balai kota karena gereja (yang biasanya menjadi satu kompleks dengan pemakamam Kristen) ikut terbakar pada pengepungan pasukan Mataram tahun 1628.

Tanggal 29 September 1629 Benteng Weesp diserang pasukan Mataram, namun menurut pengamatan orang Belanda hal itu tidak menimbulkan kerugian yang berarti dari sisi militer. Namun justru menimbulkan kerugian besar di pihak Mataram. Bagi orang Belanda serangan ini justru dianggap sebagai serangan yang nekad karena bagi pihak Belanda pun bencana bagi pihak Mataram sudah kelihatan jelas. Pada tanggal 27 September pun pihak Belanda memutuskan untuk tidak lagi mengadakan serangan umum karena orang-orang Jawa yang ditawan memberikan informasi bahwa bahaya kelaparan semakin mengancam pasukan Mataram.

Pada serangan kecil tanggal 1 Oktober kelihatan bahwa pasukan Mataram sudah tidak bersemangat lagi dan keesokan harinya gerakan penarikan mundur pasukan dimulai. Pasukan yang mundur ini meninggalkan banyak mayat dan korban, gerobak-gerobak kosong dan barang-barang lain. Semakin jauh jaraknya dari kota barang yang ditinggalkan semakin banyak jumlahnya.

Selapa pengepungan yang kedua ini pihak Belanda menyatakan bahwa tidak ada kegaduhan apa pun di kota. Semua berjalan seperti biasa. Korban di pihak Belanda tidak lebih dari dua belas orang yang tewas. Jumlah yang tewas dari orang-orang Cina, mardickers (orang bebas), dan Jepang jauh lebih sedikit. Orang-orang Banten yang kemudian melihat-lihat bekas pertahanan pasukan Mataram pun terheran-heran dengan suasana yang setenang itu.

Dalam catatan Belanda mereka pun memuji pasukan Jawa (Mataram) ini sebagai pasukan yang berdisiplin, berani bertempur, dan dapat menyesuaikan diri dengan cara-cara tempur yang asing baginya. Kegagalan mereka di antaranya disebabkan kurangnya perawatan atas pasukan dan peralatan, kurangnya daya tembak senjata mereka dibandingkan senjata orang Eropa, dan tubuh yang realtif kecil (lemah) dibandingkan orang Eropa. Penyakit dan kekurangan logistic ikut memperparah kekalahan mereka. Benteng yang dibuat bangsa Eropa juga sangat menyulitkan mereka untuk “membedah” kota dan mendudukinya.

Selain itu, pembendungan Sungai Ciliwung mengalami kegagalan karena Sungai Ciliwung tidak memiliki saluran pembuangan lain. Hal ini berbeda dengan Sungai Brantas yang memiliki saluran air lain, yakni Sungai Porong sehingga aliran air Sungai Brantas bisa dialihkan ke Sungai Porong. Oleh karena itu pengepungan Surabaya dengan “mematikan” Sungai Brantas yang mengakibatkan bencana kelaparan dan penyakit di Kota Surabaya menjadikan Surabaya takluk. Hal ini tidak bisa diterapkan di Batavia dengan membendung Sungai Ciliwung karena saluran alternative untuk membelokkan air Sungai Ciliwung tidak ada. Di samping itu, musim hujan yang jatuh lebih awal di Jawa Barat dibandingkan di Jawa Timur sedikit berada di luar perhitungan pasukan Mataram. (Albes Sartono)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
BAHAN ALAMI BERFAEDAH BAGI KESEHATAN MANUSIA (3) – Bunga Rosela Bantu Atasi Cacingan

PEMANFAATAN bahan alami berfaedah atau berkhasiat bagi kesehatan manusia perlu terus disebarluaskan. Sebelum muncul aneka obat kimia, diyakini aneka bahan

Close