PENGEPUNGAN MATARAM ATAS BATAVIA 1628 DAN 1629 (6) – Tumenggung Tegal Menawarkan Perdamaian

DESAS-DESUS tentang persiapan-persiapan Mataram untuk mengulangi pengepungan sudah lama sampai di Batavia. Menurut sumber Belanda, Kasultanan Cirebon juga mengirimkan keterangan-keterangan secara rahasia perihal itu ke Batavia. Orang-orang Cina yang mondar-mandir berlayar juga memperkuat keterangan itu. Desas-desus ini menimbulkan kecemasan bagi warga Batavia.

Di balik desas-desus yang demikian, ternyata dikirim seorang Jawa bernama Warga yang membawa surat-surat dari atasannya, Tumenggung Tegal, datang untuk menawarkan perdamaian kepada Belanda. Ia bahkan bertindak terlalu jauh sampai mengatakan,”Raja Mataram meminta maaf.” Kepada utusan itu dijanjikan bahwa para kawula dalem raja Mataram diperbolehkan berdagang bebas di Batavia. Dengan dalih seperti itu orang-orang Jawa dapat mengangkut beras dalam jumlah besar melalui pantai dan menimbunnya. Pengangkutan padi/beras dalam jumlah besar ini dilihat oleh dua kapal Belanda yang berada di Tegal dengan tugas pengintaian atau mata-mata. Diketahui bahwa lebih dari 100 kapal bermuatan padi yang datang ke Tegal dan oleh Tumenggung Tegal dikatakan bahwa padi-padi tersebut diperuntukkan bagi Batavia. Tumenggung Tegal beralasan bahwa ia hanya hendak menumpuk sementara padi tersebut di Tegal.

Tanggal 20 Juni 1629 Warga datang lagi ke Batavia. Di dalam kapal yang ditumpangi Warga ada tokoh yang hanya disebut sebagai Seorang Jawa oleh Belanda. Orang Jawa ini adalah kenalan salah seorang bendaharawan yang bernama Cornelis van Maseyck. Orang Jawa inilah yang memberitahukan tentang persiapan-persaiapan perang yang dilakukan Raja Mataram (Sultan Agung). Warga yang kemudian ditahan Belanda dan diinterogasi akhirnya bercerita tentang gerak pasukan Mataram. Ia juga menyatakan bahwa Tegal akan dijadikan gudang makanan atau logistic oleh Mataram.

Belanda mengirimkan tiga buah kapal menuju Tegal dan pada tanggal 4 Juli 1629 Belanda memusnahkan 200 kapal, 400 rumah, dan satu tumpukan padi dengan ukuran lebar 4 x 4 m dan tinggi 12 x 4 m tanpa kehilangan satu orang pun di pihak Belanda. Pukulan Belanda pada sisi logistik Mataram di Tegal ini menimbulkan rasa takut yang cukup dalam sehingga tidak ada satu kapal pun yang berani muncul di perairan Laut Jawa. Beberapa minggu kemudian persediaan padi di Cirebon juga dimusnahkan. Dengan habis atau hancurnya logistic ini sesungguhnya akhir peperangan sudah dapat diprediksi. Apa pun usaha dan kemahiran pasukan Mataram yangd apat dilancarkan di Batavia kemungkinan besar hanya dapat bertahan selama satu bulan selebihnya pasukan akan lemah dengan sendirinya karena tidak ada persediaan pangan.

Tanggal 8 September 1629 orang-orang Belanda sudah mengetahui bahwa pasukan Mataram telah membuat parit-parit perlindungan dan telah mendekati Benteng Hollandia. Satu sergapan di sore hari telah dapat merusakkan parit-parit yang dibuat pasukan Mataram. Tanggal 12 September 1629 Benteng Bommel diserbu oleh 200 orang pasukan Mataram namun dapat dipukul mundur.

Tanggal 14-15 September 1629 datang gerobak-gerobak yang ditarik oleh 12-18 ekor kerbau. Gerobak ini berisi meriam-meriam pasukan Mataram. Pasukan Mataram menyiapkan diri dengan berusaha meletakkan meriam-meriam itu sedekat mungkin dengan pertahanan paling luar di pihak Belanda. Usaha pasukan Mataram ini mendapatkan serangan sergapan oleh Belanda di bawah komando Antonio van Diemen pada tanggal 17 September 1629. Pasukan Mataram mengalami kekalahan besar dalam serangan ini sekalipun mereka melawan dengan sengit. Bahkan pertahanan mereka juga dibakar. Datangnya hujan cukup menolong pasukan Mataram untuk memadamkan api. (Albes Sartono)

Read previous post:
Lancarkan Sirkulasi Darah dengan Kencur

SALAH tanaman empon-empon cukup populer, yakni kencur. Bagian tanaman yang banyak dimanfaatkan terutama rimpangnya. Selain bermanfaat di bidang masakan, juga

Close