PENGEPUNGAN MATARAM ATAS BATAVIA 1628 DAN 1629 (5) – Usaha Membendung Sungai Mengalami Kegagalan

PENYERBUAN Batavia yang pertama telah merenggut nyawa panglimanya, Tumenggung Baureksa dan putranya dilanjutkan dengan pernyerangan yang kedua, yakni Ekspedisi Kaladuta II di bawah pimpinan Tumenggung Sura Agul-agul, Adipati Mandurareja, dan Adipati Upasanta. Adipati Mandurareja dan Adipati Upasanta adalah dua bersaudara. Mereka datang di depan Batavia dengan suatu harapan Batavia telah berhasil direbut dalam penyerbuan yang pertama. Jadi, mereka berpengharapan bahwa kedatangan mereka tinggal melucuti Belanda dan membawa rampasan perang. Namun ketika Adipati Mandurareja mengetahui keadaan yang sesungguhnya ia merasa terkejut dan menebah (menepuk) dadanya sambil berkata, “Apa yang akan saya bawa untuk saya persembahkan kepada raja saya di Mataram ?”

Kini, tidak ada pilihan lain lagi kecuali harus bertempur mati-matian untuk dapat merebut kota. Dalam hal ini ia berprinsip bahwa tidak boleh ada orang Belanda pun yang diselamatkan. Namun ia juga mengetahui bahwa tidak ada kemungkinan untuk merebut Kota Batavia dengan serbuan yang mendadak. Ia kemudian kembali menggunakan cara yang telah diuji keberhasilannya pada pertempuran (penaklukkan Surabaya), yakni dengan membendung sungai. Untuk itu pula dipekerjakannya 3.000 orang selama satu bulan untuk membendung sungai yang mengalir ke kota. Mereka melakukan pembendungan sungai dengan jarak satu mil dari kota. Usaha ini berjalan lamban karena rakyat kelaparan dan serba berkekurangan. Demikian seperti yang dituliskan sejarawan Belanda, HJ. de Graaf.

Satu-satunya serangan pada bagian kedua pengepungan ini adalah usaha baru untuk merebut Benteng Hollandia. Usaha ini dilakukan pada tanggal 27 dan 28 November 1628 malam. Penyerangan pertama dilakukan dengan 100 orang prajurit dan dilanjutkan dengan 300 orang prajurit, namun usaha ini dipergoki dan beberapa dari mereka ditembak mati serta sisanya melarikan diri.

Tanggal 1 Desember 1628 Tumenggung Sura Agul-agul memerintahkan untuk mengikat Adipati Mandurareja dan Adipati Upasanta beserta anak buahnya dan melalui pengadilan serta atas nama raja Mataram mereka dihukum mati karena Batavia tidak ditaklukkannya dan karena mereka tidak bertempur mati-matian. Pada 3 Desember 1628 pasukan ini meninggalkan Batavia dan membiarkan mayat-mayat bergelimpangan akibat eksekusi. Ada 744 mayat di tempat tersebut berdasarkan hitungan oleh petugas dari Belanda. Itulah akhir dari peristiwa pengepungan Batavia yang pertama yang dalam cerita tutur sering dikenal dengan Kaladuta I.

Usaha pengepungan Batavia yang gagal di tahun 1628 ini diulang lagi pada tahun 1629. Pasukan Mataram mulai bergerak akhir Mei 1629. Sekitar 20 Juni 1629 pasukan-pasukan yang lain menyusul keberangkatan pasukan pertama. Mereka berharap dalam satu bulan mereka sudah tiba di depan Batavia. Namun 31 Agustus 1629 pasukan pelopor dilihat oleh para penjaga Belanda yang menempatkan pengawasan 3-4 mil jauhnya dari kota Batavia. Pos pengawasan ini ditempatkan di pinggir Sungai Ciliwung. Pada peristiwa ini ada 40 orang Jawa berkuda merusaha mengusir ternak milik Belanda, tetapi dihalang-halangi oleh pasukan berkuda Belanda dan dibantu para peternak yang bersenjata.

Pada tanggal 31 Agustus 1629 itu pula pasukan-pasukan Jawa yang lain mulai mendekat dan berkemah di timur, selatan dan barat Kota Batavia di luar jarak tembak meriam. Sejumlah besar rakyat dan pasukan terlihat berjalan kaki, berkuda, dan menunggang gajah dengan panji-panji serta bendera-bendera. Orang-orang yang ditawan pun dibebaskan. (Albes Sartono)

Read previous post:
Tukar Guling Penghuni Batu Kalsedon

EMPAT tahun lalu Ganjur (bukan nama sebenarnya) terlibat dalam eforia perburuan batu akik. Siang itu Ganjur dan dua temannya menyisir

Close