KYAI PAHING, PENYEBAR AGAMA ISLAM DI TEMBARAK (1) – Mujahadahan Setiap Malam Jumat Pahing

KYAI Pahing, yang nama aslinya Kyai Abdul Kholiq atau Raden Mas Wiryo Kusumo adalah seorang mubaligh. Ayahnya bernama Panembahan Bodo atau Raden Trenggono (tetapi bukan Sultan Trenggono), dan ibunya Nyai Brintik, putri Sunan Kalijaga. Dalam perjalanan syiar agama Islam dia menetap di sebuah desa yang kini bernama Menggoro, wilayah Kecamatan Tembarak Kabupaten Temanggung. Sebuah desa yang subur di kaki sisi timur Gunung Sumbing. Dalam menyebarkan agama Islam, dia hidup di tengah masyarakat yang menganut ajaran agama Hindu, di samping juga masih ada yang mempunyai faham kepercayaan Animisme dan Dinamisme. Inilah yang menarik dan menjadi tantangan Kyai Abdul Kholiq untuk menyebarkan agama Islam di desa ini, yang kala itu menjadi takmir masjid peninggalan ayahandanya. Sisa-sisa bangunan candi Hindu berupa arca Nandi dan batu-batu candi kini diletakkan di bawah dua pohon tanjung di halaman masjid.

Dengan memukul kentongan, Kyai Abdul Kholiq mengundang masyarakat agar berkumpul di sebuah tempat. Setelah banyak warga masyarakat yang datang dan berkumpul, mereka diajak Kyai Abdul Kholiq untuk masuk ke sebuah masjid. Tetapi, sebelum memasuki masjid, warga masyarakat itu dituntun mengucapkan dua kalimat syahadat dan diberi pemahaman maknanya. Dengan mengucapkan kalimat syahadat itu artinya mereka telah masuk agama Islam. Setelah mengucapkan dua kalimat syahadat, Kyai Abdul Kholiq memberikan pengarahan dan amalan-amalan yaitu, “Ya Allah, Ya Kabir, Ya Rahim, Ya Mujib.” Yang artinya, “Wahai Allah Yang Maha Agung, Yang Maha Mulia, Yang Maha Mengabulkan”.

MERAPI-AMAT SUKANDAR Lukisan Kyai Pahing.
MERAPI-AMAT SUKANDAR
Lukisan Kyai Pahing.

Dari hari ke hari jumlah orang yang datang untuk mengikuti pengajian dan mujahadah yang dilakukan di masjid itu semakin bertambah banyak. Pesertanya tidak hanya warga desa setempat, tetapi juga dari desa-desa lain di sekitar Tembarak. Mujahadahan ini diselenggarakan setiap Kamis Legi malam Jum’at Pahing sehabis sholat Isyak. Karena kegiatan mujahadahan itu diselenggarakan setiap malam Jum’at Pahing, maka warga setempat menyebut Kyai Abdul Kholiq dengan panggilan mBah Kyai Pahing. Nama Kyai Pahing inilah yang lebih dikenal oleh masyarakat Temanggung dan sekitarnya sampai sekarang. (Amat Sukandar)

 

Pin It on Pinterest

Read previous post:
MERAPI-TEGUH Anggota PPSHM foto bersama Shokhib Abdillah (kemeja putih) usai sosialisasi.
PENTINGNYA SOSIALISASI BAGI PENANGKAR-Tak Lagi Ragu Tangkarkan Satwa Hias Tak Dilindungi

TERJADINYA penyitaan sejumlah satwa jenis Merak Biru oleh aparat di Bogor beberapa waktu lalu, sempat membuat sebagian besar penangkar satwa

Close