BATIK THINTHING KULONPROGO-Motif Kebudayaan Bertengger di Pasaran

Joko Mursito menunjukkan produk Batik Thinthing yang terpajang di galeri. (MERAPI-AMIN KUNTARI)

PRODUKSI batik di wilayah DIY terus berkembang seiring banyaknya permintaan. Masing-masing produk memiliki ciri khas menarik untuk dijadikan identitas. Batik Thinthing Kulonprogo misalnya, mengangkat tema budaya sebagai motif utama.

Batik Thinthing merupakan produk milik Seniman Kulonprogo, Joko Mursito. Produksi batik ini pada awalnya didirikan untuk menghidupi sanggar budaya milik Joko, Sanggar Singlon. Mengangkat motif kebudayaan, produk Batik Thinthing berhasil mencuri perhatian konsumen hingga berkembang pesat di pasaran.

Saat ini, jumlah produksi Batik Thinthing sudah menembus angka 600 potong tiap bulannya. Motifnya pun beragam, dengan teknik pembuatan eksklusif yang dicintai konsumen. Padahal, produksi batik ini belum lama didirikan, yakni pada 2015 lalu.

“Sejak Sanggar Singlon berdiri pada 2008, saya selalu memutar otak untuk mencari biaya operasionalnya. Sebab anak-anak yang berlatih seni budaya di sini tidak kami pungut biaya sepeserpun,” kata Joko saat ditemui wartawan di Sangar Singlon yang kini dilengkapi Galeri Batik Thinthing, Jalan Kawijo Pengasih depan Taman Budaya Kulonprogo, kemarin.

Joko juga mengaku sempat merasa tidak yakin bisa mengembangkan usaha produksi batik di Sanggar Singlon. Sebab saat itu, ia memfokuskan sanggar untuk tempat berlatih seni budaya anak-anak didiknya. Namun dorongan kebutuhan biaya operasional sanggar membuat Joko berani melangkah. Ia pun merintis usaha produksi Batik Thinthing.

Kepada wartawan, Joko membeberkan alasan memilih nama Thinthing untuk produk batiknya. Nama ini, menurutnya terinspirasi dari bunyi gamelan dalam kesenian karawitan.

“Kalau dalam karawitan, ngelaras atau mencoba alat musik untuk menentukan tinggi rendahnya nada akan bunyi thing…thing. Jadi saya namai Batik Thinthing, artinya coba-coba,” ucap pria yang juga menjabat sebagai Sekretaris Dinas Kebudayaan Kulonprogo ini.

Nama Thinthing dipakai Joko karena dirinya belum tahu persis, bagaimana perkembangan usaha tersebut. Namun yang pasti, ia terus berusaha agar produk Batik Thinthing bisa diterima pasar, salah satunya dengan mencari bentuk dan karakter yang belum dipunyai batik lain.

Joko akhirnya memilih canting kayu sebagai alat produksi Batik Thinthing. Ia mengklaim, Thinthing merupakan satu-satunya batik yang menggunakan canting kayu dalam proses produksi, sementara perajin lain masih menggunakan canting tembaga.

“Begitu canting kayu ditempel pada kain, teksturnya lebih tampak. Jadi abstrak klasik,” ucapnya.

Untuk motif, Thinthing mengangkat tema kebudayaan. Joko menyematkan gambar relief candi, huruf Jawa dan gamelan dalam motif batiknya. Saat dipasarkan, motif dan tekstur Thinthing pun berhasil mendapat apresiasi dari banyak pihak karena dianggap sebagai ciri khas yang unik.

“Banyak diminati. Saya jadi lebih semangat,” ujar Joko.

Produk Batik Thinthing dipasarkan dengan harga Rp 150.000 hingga Rp 300.000 per potong. Selain masyarakat Kulonprogo, pesanan juga datang dari luar daerah seperti Cengkareng, Tenggarong, Gorontalo dan Sumatera. Beberapa kali, pemasaran Batik Thinthing bahkan sampai ke luar negeri yakni Perancis dan Australia. Jumlah pesanan pun beragam, berkisar 600-800 potong.

Karena mempertimbangkan profesionalitas, produksi Batik Thinthing yang semula hanya dikerjakan anak-anak Sanggar Singlon berganti menjadi pekerja yang berkompeten. Saat ini, sudah ada 13 pekerja yang membantu Joko dalam memproduksi Batik Thinthing.

“Hasil penjualannya bisa membiayai operasional Sanggar Singlon,” ujarnya senang.

Tiga tahun berjalan, Joko mengaku tidak menemui kendala berarti pada produksi Batik Thinthing. Ia terus berinovasi menciptakan motif-motif baru, termasuk kreasi geblek renteng sebagai ciri khas Kulonprogo. Joko yang kemudian dipercaya menjadi Ketua Asosiasi Batik Kulonprogo ini bermimpi, suatu hari nanti bisa memiliki tempat yang luas untuk para pekerja dalam memroduksi batik sehingga layak dipamerkan kepada wisatawan.

“Saya selalu sampaikan kepada perajin batik di Kulonprogo, mari kita menangkan pasar kita sendiri. Masing-masing perajin harus punya ciri khas yang menjadi identitas sehingga dapat membentuk segmen pasar sendiri tanpa harus bersaing dengan perajin batik lainnya,” pungkas Joko. (Unt)

 

Pin It on Pinterest

Read previous post:
KOMPETISI PSSI BANTUL – Banteng Muda Atasi Panselt

    BANTUL (MERAPI) - Kemenangan mampu dicatatkan oleh Banteng Muda dalam laga terakhir Divisi I Kompetisi Askab PSSI Bantul

Close