613 TAHUN PENDARATAN CHENG HOO DI SEMARANG (1) – Acara Kirab Harus Minta Izin Dewa

KELENTENG Tay Kak Sie, di kawasan Jalan Gang Lombok No 62 Pecinan Semarang, bulan Agustus lalu menggelar Festival Cheng Hoo 2018, untuk memperingati 613 tahun kedatangan Laksamana Cheng Hoo di kota Semarang. Acara ini digelar setiap tahun dan sekarang dijadikan sebagai agenda pariwisata oleh Dinas Pariwisata dan didukung Pemkot Semarang.

Menurut Hendarto selaku Ketua Panitia Pelaksana Kirab, beberapa kegiatan yang digelar antara lain Ritual Sembahyangan, Kesenian Toa Kok Joei, Cheng Hoo Night Festival pada malam sebelum puncaknya kirab Patung Dewa. Juga ada Panggung Kesenian, Talk Show Budaya, Napak Tilas Sejarah Cheng Hoo, Lomba Barongsai, dll. Namun yang menjadi inti acara dalam Festival Cheng Hoo 2018 adalah arak-arakan kirab yang dalam bahasa Mandarinnya disebut Jut Bio.

Hendarto menjelaskan, acara kirab semacam ini sudah digelar sejak 60 tahun yang lalu. Setiap tahun selalu dirayakan kecuali saat G30/S, sempat berhenti dan baru digelar lagi setelah mendapat izin dari Presiden Soeharto dan Pangkopkamtib.

Menurut Hendarto, “Laksamana Cheng Hoo mendarat di Semarang pada bulan 6 tanggal 29 atau 30 penanggalan Imlek, yang jatuh antara bulan Juli dan Agustus. Tapi kebanyakan di bulan Agustus.

Semua kegiatan yang dilakukan kelenteng harus ditanyakan kepada Kongco (dewa), dengan cara sembahyangan terlebih dahulu dan dilakukan pak pwee (melempar kayu). Termasuk acara sejit (ulang tahun) Sam Poo ini, di mana perayaan jutbio (kirab) nya tidak sesuai dengan hari yang seharusnya. Kirab dilakukan dari kelenteng Tay Kak Sie menuju ke kelenteng Sam Poo Kong di Gedung Batu, yang terletak di Jalan Simongan 129 Semarang.

Hendarto menjelaskan, “Kalau mau kirab, kita harus mengadakan persembahyangan terlebih dahulu untuk meminta izin, apakah kongconya berkenan tidak diadakan kirab. Sebab beberapa kali mau mengadakan kirab, ternyata yang kita puja itu tidak berkenan atau tidak mengizinkan untuk dilakukan kirab. Jadi tidak setiap kirab itu diizinkan. Kongco Sam Poo ini pernah juga tidak berkenan untuk dikirab. Jadi kita adakan sembahyang kebesaran di kelenteng saja. Kalau Kongconya tidak setuju, ya kita tidak berani. Sebab kita sudah percaya bahwa petunjuk dari yang kita sucikan itu menjadi dasar gerakan kita.” katanya. (Hendro Wibowo)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Dibentak Komandan Pasukan Pengawal

DUA bulan Ringgo (nama samaran) dilatih super keras sebagai anggota Paskibra tingkat Provinsi. Tidak disangka, Ringgo berhasil lolos seleksi untuk

Close