Peserta Pawiyatan Pamong Kunjungi Pura Pakualaman

Suasana Pawiyatan Pamong saat berada di Pura Pakualaman. (MERAPI-TEGUH)

SEBANYAK 57 peserta Pawiyatan Pamong Tahap V angkatan XVII yang terdiri dari sejumlah Lurah Desa dan para Kepala Dusun se Kabupaten Bantul, melakukan kunjungan ke Pura Pakualaman, Kamis (29/11) sore. Menurut salah seorang panitia pelaksana Sigit Sugito, kunjungan ini merupakan satu rangkaian dari pelaksanaan Pawiyatan Pamong yang diselenggarakan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang pelaksanaannya dilakukan secara bertahap.

Kunjungan ke Kadipaten Pakualaman dimaksudkan untuk lebih mendalami arti sejarah keistimewaan yang disokong dari penyatuan dua kerajaan yaitu Kasultanan Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman sebagai pilar utama terbentuknya Daerah Istimewa Yogyakarta. Menurut dia, para Lurah Desa dan para Dukuh nantinya diharapkan memiliki wawasan yang lebih luas lagi terkait dengan pemahamannya tentang keistimewaan dan perannya di dalam melestarikan dan menjaga keistimewaan Yogyakarta.

“Pembukaan sudah dilakukan di Gedung Punakawan, ini kunjungan sekaligus belajar sejarah terkait dengan berdirinya Kadipaten dan berbagai seluk beluk yang ada di Pura Pakualaman ini,” tutur Sigit yang juga sebagai moderator dalam diskusi Pawiyatan Pamong kepada Merapi sesaat kegiatan berlangsung.

Dari pihak Pura Pakualaman hadir sebagai pembicara KPH Kusumoparastho dan KRT Projo Anggono. Secara ringkas KPH Kusumoparastho memaparkan sejarah berdirinya Kadipaten Pakualaman, bagaikan cerita Nabi Yusuf, seperti dalam kisah-kisah di Kitab Suci Al Quran. Karena rasa iri dari saudara-saudaranya, Nabi Yusuf kemudian dilemparkan masuk ke dalam sumur tua dengan maksud untuk membunuhnya.

Namun, ternyata kemudian datang para pedagang musyafir yang kemudian menolong dan menjadikannya budak belian dan dijual kepada pembesar di Mesir. Sampai akhirnya dalam perjalanannya mengalami banyak cobaan, hingga akhirnya Tuhan memberinya anugerah kemuliaan karena keikhlasannya menjalani ujian hidup yang berat itu.

“Pendiri Kadipaten Pakualaman yaitu Pangeran Notokusumo, memiliki perjalanan hidup yang mirip-mirip dengan kisah Nabi Yusuf, mendapat perlakuan tidak adil bahkan beberapaka mengalami percobaan pembunuhan. Namun karena sifat dan sikapnya yang ikhlas dan tabah dalam menjalani cobaan hidup, akhirnya menerima kemuliaan, setelah adanya berbagai kejolak yang terjadi baik secara global di kerjaan eropa maupun kemelut yang ada di keraton sendiri, ketika itu,” ucap Kanjeng Kusumo begitu biasa disapa.

Sementara itu KRT Projo Anggono lebih banyak menyampaikan penjelasan terkait dengan segala sesuatu yang ada di dalam lingkungan Pura Pakualaman, menurut Kanjeng Anggono, sebagai mana Kraton Yogyakarta, semua bangunan yang ada di Pura Pakualaman juga memiliki makna filosofi serta fungsi yang sesuai dengan penamaannya.

“Kadipaten Pakualaman juga memiliki Alun-alun meski sangat terbatas yang oleh masyarakat umum disebut lapangan Sewadanan dan Masjid yang dibanun pada tahun 1839 di masa Paku Alam II, tepat berada di sebelah baratnya. Secara konsep sama dengan tata ruang yang ada Keraton. Namun disini ukurannya lebih kecil,” ucapnya. (Teguh)

 

Pin It on Pinterest

Read previous post:
SIDANG PENJUAL PIL SAPI- Terdakwa Mengaku untuk Bisnis

  BANTUL (MERAPI) - Terdakwa DS (19), warga Bantul yang berjualan pil sapi yang masuk dalam kategori psikotropika tak memiliki

Close