ASAL-USUL BERBAGAI JENIS KERIS PUSAKA DI JAWA (7) – Si Enom, Empu Muda Pilih Tanding

ONCATNYA keris pusaka Majapahit kiayi Condongcampur dari paron penempaan di baselen istana, membuat runtuh perasaan sang nata. Cemas bercampur was-was menangkap isarat semakin dekat keruntuhan kejayaan Siwa-Budha kian nyata. Sehingga pesan gaib dari keris Condongcampur yang memberi rekomendasi agar Prabu Brawijoyo membuat bilah keris dapur sosro alias seribu, menjadi obsesi yang harus diwujudkan. Upaya yang kemudian dilakukan sang nata mengumpulkan semua empu tersohor di seluruh Majapahit, semua empu keris sakti hadir di baselen istana. Kecuali empu Supa yang kabarnya sudah kembali ke Tuban dengan membawa keris Sengkelat, sesuai saran empu Jigjo agar keris Sengkelat tidak diminta Prabu Brawijoyo.

Ketidakhadiran empu Supa mengundang kecurigaan sang nata yang kemudian memerintahkan empu Supadriya ayah empu Supa untuk langsung menyusul anaknya ke Tuban. Bersama sejumlah pengawal empu Supadriya berangkat ke Tuban dengan tujuan menyusul anaknya, agar ikut berkumpul di Majapahit guna membuat keris dapur sewu sesuai dengan keinginan sang Prabu.

Sayangnya sesampai di Tuban, ternyata empu Supa sedang pergi mengikuti Sunan Kalijaga dalam upaya mencari hilangnya keris Sengkelat yang dicuri maling aguna Cluring utusan Adipati Shiunglaut bupati Blambangan. Karena takut dianggap tidak mentaati perintahnya raja, empu Supadriya lalu meminta pada Rasawulan istri empu Supa, agar anaknya yang bernama Si Enom ikut serta ke Majapahit. Alasan pertama sebagai bukti kalau dirinya sudah sampai ke Tuban, sedangkan alasan kedua kalau empu Supa sudah kembali biar langsung datang ke Majapahit untuk menjemput anaknya.

Singkat cerita, empu Supadriya sudah sampai di Majapahit bersama pengawal dan cucunya Si Enom. Setelah menghaturkan semua laporan perjalanannya Prabu Brawijoyo agak kecewa. Tapi perhatiannya kemudian tertuju pada seorang bocah remaja tanggung yang ikut duduk seba berada di belakang empu Supadriya.
“Siapa anak muda yang duduk di belakangmu empu Supadriya ?” tanya sang Prabu
“Ini putra empu Supa, cucu hamba. Maha Prabu,” jawab empu Supadriya yang khawatir pikirnya kalau cucunya akan menerima hukuman dari ketidakhadiran bapaknya di Majapahit.

“Siapa namamu ngger ?”, tanya sang nata seraya meminta Si Enom agar mendekat dengan isarat lambaian tangan.

“Hamba biasa di panggil Enom Maha Prabu, Supa Enom,” jawab bocah lugu yang memancarkan cahaya sebagai sosok linuwih.

“Sepertinya kau sudah bisa membuat keris. Aku ingin bapakmu membuatkan keris dapur sewu, karena bapakmu tidak hadir apa kamu bisa membuatkan keris dapur sewu untukku,” tanya sang Prabu.

Betapa terkejutnya hati empu Supadriya ketika mendengar jawaban cucunya yang menyanggupi permintaan Prabu Brawijoyo, meski dengan syarat untuk mengumpulkan semua besi rongsok yang ada di Majapahit untuk dibawa ke pantai Tuban. Sebab si Enom akan menempa pembuatan keris dapur sewu di dalam laut. Jelas ini menghenyak pikiran semua yang hadir, sebab teknik tempa para empu belum ada yang melakukan cara aneh seperti itu. Menempa besi menjadi pusaka di tengah laut, sesuatu yang muskil dilakukan empu sakti mandraguna sekali pun. Tapi akan dilakukan Si Enom cucu empu Supadriya. (Teguh)

Read previous post:
Jalan Ambles Dipasang Tanggul Darurat

KARANGANYAR (MERAPI) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karanganyar membangun tanggul darurat di tiga titik longsor jalan penghubung Karangpandan-Mojogedang. Meski

Close