ASAL-USUL BERBAGAI JENIS KERIS PUSAKA DI JAWA (6) – Keris Concongcampur Jadi Teluhbraja Lintang Kemukus

DIKISAHKAN dalam babad Demak, setiap hari Soma alias Senin sang Prabu memiliki kebiasaan membersihkan semua pusaka kerajaan. Secara pribadi penguasa Majapahit melakukannya sendiri, sebab sang nata memang memiliki kegemaran dan paham dengan kualitas tosan. Sebagaimana dikisahkan sebelumnya, setelah selesai menunaikan tugas jadwal piket di gedung keputren. Begitu Empu Jigjo mengetahui keris Sabuk Inten miliknya cacat dua luk, dan Empu Supa menceritakan semua yang terjadi malam itu. Atas saran Empu Jigjo, secepatnya Empu Supa kembali ke Tuban. Jangan sampai keris Sengkelat nantinya diminta sang nata yang sangat paham dengan kualitas pusaka.

Sementara Empu jigjo setelah mengetahui cacat Sabuk Inten tidak mungkin diperbaiki, lantas dengan berat hati dua luk yang rusak akibat gempuran keris Condongcampur kemudian diamputasi alias dipotong, sehingga keris Sabuk Inten menjadi luk 11 hingga saat ini. Kalau semula auranya memiliki kedekatan dengan para kesatria dan panggawa kerajaan, setelah dipotong menjadi 11 luk keris ini lebih cocok sebagai pusaka para saudagar dan mereka yang memiliki usaha berniaga.

Kembali pada Sang Prabu Brawijaya yang sedang menimang berbagai pusaka di gandaga Prabayaksa, begitu giliran menarik keris Condongcampur dari warangkanya, sang nata sontak kerkejut bercampur heran. Ternyata keris Condongcampur patah satu luk di bagian ujungnya, selain itu berbagai cacat seperti terkena gosokan gerinda dan kikir nyaris menyebar di seluruh bilah hingga memudarkan keelokan pamornya.

Bisa dibayangkan betapa sedihnya perasaan sang nata, begitu melihat keadaan keris pusaka yang menjadi simbol kejayaan kerajaan dalam keadaan rusak. Sehingga memunculkan banyak tafsir bagaimana nasib kerajaan Majapahit selanjutnya. Oleh sebab itu kemudian diperintahkan pepatih dalem Gajahpremada, untuk mengundang para empu kerajaan yaitu Empu Supadriya dan Empu Supagati agar datang ke istana.

Atas titah sang nata, kedua empu misuhur itu diberi tugas untuk membangun kembali keris Condongcampur agar kembali utuh seperti sedia kala. Walau dengan berat hati kedua empu itu menjalankan titah rajanya. Sebab dalam hati keduanya sangat paham dengan firasat atas kejadian yang telah dialami oleh kedua anak mereka sewaktu menggantikannya tugas jaga keputren. Dengan disertai sang nata, kedua empu itu pun menuju ke besalen kerajaan guna melaksanakan perintah Prabu Brawijaya.

Perapian di besalen telah dinyalakan, upacara kecil terkait dengan tata cara membangun keris pun telah selesai dilakukan. Bilah keris Condongcampur dimasukan dalam perapian dibakar hingga menyala. Begitu nyala bilah merata, empu Supadriya kemudian menjapitnya dan meletakkannya di atas paron untuk ditempa. Begitu ayunan palu empu Supagati mengarah ke badan bilah yang merah membara, tiba-tiba keris Condongcampur melesat ke angkasa bersamaan dengan suara gemuruh. Wujud keris Condongcampur berubah menjadi semacam teluh braja yang menyatu dengan lintang kemukus.

Bersamaan dengan hilangnya wujud keris Condongcampur terdengar suara sebagaimana ditulis dalam babad Demak, “heh sang Prabu Brawijaya, poma den ngati-ati, sira mitenah marangwang, maniro darma nglakoni, iya pratanda iki, dadi rusak negaramu, ya sira tutugena, gaweya keris kang becik, ngupayaa keris siji dapur sasra”. (Teguh)

Read previous post:
Serangan Hewan Buas Mengganas

KARANGANYAR (MERAPI) - Situasi mencekam dirasakan warga Desa Wonorejo, Jatiyoso, seiring serangan bertubi hewan buas ke puluhan kambingnya. Tak mau

Close