ASAL-USUL BERBAGAI JENIS KERIS PUSAKA DI JAWA (5) – Perang Tanding Sengkelat dan Condongcampur

KERAJAAN Majapahit pada suatu ketika dilanda wabah penyakit atau pagebluk. Banyak kalangan rakyat jelata menjadi korban. Lingkungan istana pun banyak sentana dan abdi dalem yang menjadi korban. Penyakit aneh tidak diketahui dari mana datangnya, juga penyebabnya dari kekuatan apa, tiba-tiba mewabah menelan banyak korban jiwa. Dalam babad Demak dikisahkan, mereka yang pagi sakit sorenya meninggal, begitu juga sebaliknya sore hari terserang sakit paginya sudah membujur jadi jisim.

Berbagai upaya sudah dilakukan dengan memanggil para tabib dan orang sakti untuk mengungkap penyakit aneh dari sumbernya. Tapi tidak ada yang bisa menembus tabir misteri itu, malah kejadiannya semakin drawasi. Hingga permaisuri sang nata pun terkena penyakit. Dari temuan para tabib istana disarankan agar setiap malam gedung keputren dijaga orang-orang sakti, termasuk para empu kerajaan. Ini untuk menjaga permaisuri agar dapat bertahan dan tidak semakin parah karena pengaruh pagebluk yang terornya memuncak pada malam hari, begitu analisa para tabib istana.

Prabu Brawijaya mengutus semua abdi dalem pilihan, juga para empu pusaka kerajaan berjaga secara bergiliran, setiap malamnya dijadwalkan dua orang menjaga gedung keputren. Pada suatu malam, bupati empu Tumenggung Supadriya dan Tumenggung Supagati kena jadwal piket. Namun secara kebetulan keduanya sakit, sehingga mengutus putra mereka. Kebetulan Empu Supa sedang di Majapahit memperkenalkan istrinya Rasawulan putri Adipati Tuban kepada keluarganya. Oleh Tumenggung Supadriya putranya diminta menggantikan jatah ronda di gedung Keputren Majapahit. Sedang tumenggung Supagati mengutus putranya Empu Jigja.

Kedua putra empu kondang di Majapahit itu bertemu di depan regol keputren, Empu Supa membawa keris Sengkelat dan Empu Jigja mengenakan keris Sabuk Inten, sama-sama memiliki luk 13. Namun begitu penampilan Sabuk Inten tampak lebih menonjol dan memiliki daya pikat ngedap-edapi, sementara wujud Sekelat sangat sederhana dan prasaja tanpa ada kelebihan gebyar dalam penampilannya.

Mereka bercengkrama sebagai mana dua sahabat lama tidak bertemu, hingga tidak terasa waktu tengah malam tiba. Ketika suasana malam makin sepi dan para abdi dalem banyak yang terlena, Empu Supa masih terjaga. Tiba-tiba dia melihat cahaya kemerahan melesat keluar dari gedung Prabayaksa tempat penyimpanan pusaka kerajaan. Cahaya itu dikenali empu Supa sebagai perwujudan keris Condongcampur milik Prabu Brawijaya. Setelah melesat keluar, keris Condongcampur lantas menebar teluh braja yang menjadi sumber wabah penyakit selama ini.

Tanpa diduga keris Sabuk Inten melesat ke luar dari warangka yang masih disengkelit Empu Jigja yang tertidur pulas. Sabuk Inten mengejar keris Condongcampur. Maka terjadilah pertempuran hebat, namun tidak lama. Ternyata kekuatan Condongcampur jauh mengungguli keampuhan Sabuk Inten. Keris milik Empu Jigja lantas kembali ke warangkanya dengan sejumlah cacat pada dua luk di ujung. Melihat kejadian itu, Empu Supa melepas kiayi Sengkelat dari warangkanya. Sengkelat melesat mengejar Condongcampur. Terjadilah pertempuran hebat, kedua keris pusaka itu saling tikam suaranya berdentam bagai pukulan pande di besalen. Tapi Condongcampur bukan lawan yang tangguh untuk Sengkelat, keris itu lantas melarikan diri dan kembali ke gandaga gedung pusaka.

Pasca kejadian itu, wabah penyakit yang melanda Majapahit hilang. Bahkan sang permaisuri sembuh dari sakitnya. Setelah mengetahui hilangnya wabah dan kesembuhan permaisuri, bertepatan dengan jadwal piket Empu Supa dan Empu Jigja, keduanya lantas diberi hadiah oleh raja. Keduanya pulang ke rumah masing-masing. (Teguh)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Bocah Bengal Bernasib Sial

DI kalangan kolektor barang lawas, Pak Kohar (bukan nama sebenarnya), termasuk 'pemain baru'. Karena itu, hatinya berbunga-bunga tatkala mendapatkan sebuah

Close