TRADISI WIWITAN (2-HABIS) – ‘Pepiling’ dan Simbol Kebersamaan

SETELAH didoakan, mbah kaum kemudian menyiram air kendhi yang berisi daun pohon dadap sirep sebagai perlambang sebagai penenang hati bagi petani pemilik lahan setelah sekian lama mengolah sawahnya sampai dengan padi siap dipanen.

Prosesi berikutnya pemilik lahan menyebar beberapa makanan di tengah sawah dan meletakkan empat bungkusan hidangan yang diletakkan di empat sudut sawah sebagai simbol kiblat papat siji pancer.

Selanjutnya petani pemilik lahan memulai memetik tangkai padi. Jumlah tangkai yang dipetik pertama kali pada prosesi wiwitan disesuaikan dengan hari pasaran Jawa dimana padi tersebut mulai dipetik. Sebagai contoh, jika padi tersebut dipanen pada hari Senin Legi berarti Senin (5) dan Legi (4), sehingga 5 + 4 = 9, jadi tangkai yang dipetik pada waktu proses wiwitan jumlahnya 9 tangkai padi.

Tangkai padi yang dipetik nantinya dibawa pulang pemilik lahan dan dipasang atau ditempelkan di tembok rumah. Hal tersebut bermakna agar rezeki yang didapat selalu dimiliki oleh pemilik rumah dan sebagai pepiling (pengingat) bagi pemilik rumah. Ketika melihat untaian tangkai padi yang dipasang ditembok, diharapkan pemilik rumah selalu bersyukur bahwa rezeki yang didapat tidak lain berasal dari sang pencipta, yaitu Tuhan Yang Maha Esa.

Prosesi wiwitan diakhiri dengan kenduri bersama dengan masyarakat yang hadir di tempat prosesi dilakukan. Kenduri bersama ini sebagai simbol kebersamaan dan berbagi kepada orang lain sebagai ungkapan syukur atas rejeki yang melimpah. (Lucia Anung/dari berbagai sumber)

Read previous post:
TRADISI WIWITAN (1) – Wujud Syukur Mengawali Panen

DI masyarakat Jawa, berbagai bentuk tradisi masih dijaga eksistensinya agar tidak punah. Selain bertujuan untuk melestarikannya agar tidak punah, tradisi

Close