ASAL-USUL BERBAGAI JENIS KERIS PUSAKA DI JAWA (3) – Keris Sengkelat Dibuat Kembar Tiga

KERIS dapur Sengkelat sesuai dengan apa yang dikatakan Sunan Kalijaga, sebagai salah satu keris pusaka yang memiliki keampuhan bagi tegak dan kokohnya kerajaan. Sehingga pada setiap pergantian penguasa di kerajaan Jawa, keris dapur Sengkelat sebagai simbol semangat gerakan muda menjadi keniscayaan untuk dihadirkan sebagai sipat kandel seorang raja yang naik tahta.

Menurut berbagai sumber, setelah Empu Supa membuat keris Sengkelat dan ditunjukan kepada Kanjeng Sunan Kalijaga gurunya, lantas oleh kanjeng Sunan keris itu dikembalikan karena bentuk keris masih merupakan bentuk senjata pada masa kejayaan kerajaan Majapahit. Pada hal saat itu dominasi kerajaan Islam Bintara di Demak mulai moncer sebagai pusat kekuatan baru para santri.
Atas saran kanjeng Sunan Kalijaga agar Kiayi Sengkelat nantinya bisa memiliki perjalanan panjang sebagai simbol kekuatan kekuasaan kerajaan, maka oleh Sunan Kalijaga diminta untuk dibuatkan putran-nya. Dengan membuat duplikasi dapur Sengkelat sebanyak dua bilah lagi, dimaksudkan nantinya agar bisa diserahkan pada dua kerajaan lainnya, yaitu Kasultanan Cirebon dan Kasultanan Banten. Sedangkan kerajaan Bintara dalam nubuat Kanjeng Sunan Kalijaga nantinya menjadi cikal-bakal bagi berdirinya dinasti kerajaan Mataram Islam, setelah masa kekuasaan Pajang.

Sebagai mana dikisahkan dalam sejarah seperti termuat di Babad Demak, ada tiga keris dapur Sengkelat yang memiliki kemiripan sempurna. Sehingga ketiganya tidak bisa dibedakan mana yang kali pertama dibuat. Kecuali oleh mereka yang memiliki kemampuan menembus pandang secara metafisik dan paham dengan kualitas tosan aji misuhur. Ketiga keris dapur Sengkelat sengaja didedikasikan bagi kekuatan dan kekuasaan seorang raja yang sedang bertahta.

Dalam sejumlah kajian terkait dengan tafsir keberadaan keris Sengkelat yang merupakan karya empu Supa sebagai generasi penerus dari darah para empu sakti kerajaan Majapahit yang kemudian eksodus ke Demak. Memiliki pemahaman bahwa kekuatan gerakan kerajaan Bintara yang mendapatkan restu dari Raja Brawijaya V, sebagai kerajaan baru juga mendapat sokongan moril dari gerakan muda para santri dan darah Majapahit yang menginginkan adanya perubahan. Terbebas dari tingkatan kasta yang masih berlaku dalam kerajaan Hindu terbesar di Nusantara itu. Masuknya ajaran para santri yang tidak memandang tingkatan kasta dalam masyarakat, semakin diminati generasi muda para paria di Majapahit yang berada di luar kasta yang ada, yaitu sudra, kesatria dan brahmana.

Konon pada masa kekuasaan Mataram Islam di bawah kendali Sultan Agung Hanyakrakusumo di Kerto, Pleret beredar kisah dua dari tiga Kiayi Sengkelat dilarung dan dipersembahkan kepada penguasa laut Selatan kanjeng Ratu Kidul. Hal itu dilakukan Sultan Agung sebelum kedua kasultanan Cirebon dan Kasultanan Banten ditaklukan oleh kerajaan Mataram Islam. Simbolik dari prosesi larung pusaka itu, boleh jadi Sultan Agung memohon restu menyatukan kekuasaan kerajaan di Jawa dalam panji Gula Kelapa Mataram. Faktanya dari ekspansi Mataram ke Cirebon dan Banten dapat ditaklukan sebelum merencanakan gagasan besar penyerangan terhadap kekuatan kompeni di Batavia. Setelah kedua kerajaan yang dianggap sebagai matahari kembar tiga di Jawa bisa ditaklukan.

Tidak berselang lama Sultan Agung melakukan penyerangan ke Batavia dengan memanfaatkan sekutunya Cirebon dan Banten sebagai pangkalan militernya, meski dua kali serangan menemui kegagalan. Namun sejarah tetap mencatat pergerakan nasionalisme Mataram Islam punya andil dalam menurunkan darah para pejuangnya di tanah air dengan semangat muda, semangat keris dapur Sengkelat. (Teguh)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Bakul Bakso Hanya Muter-muter

BANYAK orang Gunungkidul yang dikenal sebagai penjual bakso. Termasuk Pak Jadi (nama samaran), yang sudah puluhan tahun menjalani profesi sebagai

Close