ASAL-USUL BERBAGAI JENIS KERIS PUSAKA DI JAWA (1) – Bahan Tosan Sebesar Klungsu

KERIS dengan dapur Sengkelat dalam pandangan sebagian masyarakat Jawa yang masih melestarikan tradisi tosan aji, boleh jadi menjadi salah satu dapur keris yang menjadi kebanggaan pemiliknya. Keris luk 13 dengan ciri khusus memiliki pancaran warna kemerahan pada bilahnya ini, diyakini punya aura yang mampu mendongkrak kewibawaan bagi pemiliknya. Sehingga tidak berlebihan kalau keris ini pernah menjadi keris tersohor yang dimiliki para raja di Jawa secara turun temurun.

Kalau dikaji secara historisnya, keris dapur Sengkelat sebenarnya merupakan produk gagal yang dibuat Joko Supa putra tumenggung Supadriya bupati wedana empu Majapahit. Setelah menikah dengan Rasawulan adik Kanjeng Sunan Kalijaga, kemudian berganti nama empu Supa. Sebelum menjadi murid setia Kanjeng Sunan Kalijaga yang selalu mengikuti ke mana pergi, Joko Supa sudah menjadi abdi dalem empu jajar di Majapahit.

Kala itu Raden Patah mendapatkan restu untuk mendirikan Kabupaten Bintara di Demak yang merupakan kabupaten Islam. Setelah mendapat ajakan dari Sunan Kalijaga, Joko Supa memilih hijrah dan menjadi murid setia Sunan Kalijaga, sebagai mana diceritakan dalam salah satu pupuh di Babad Demak. Ketika Kabupaten Bintoro hendak mendirikan masjid, para wali diminta bantuannya masing-masing untuk memberi satu soko penopang bangunan masjid nantinya. Sunan Kalijaga mengajak Joko Supa untuk mencari pohon jati di suatu hutan.

Belum sampai mendapatkan pohon jati yang dipandang cocok untuk dijadikan sebuah soko guru masjid, kereka bertemu dengan Rasawulan, adik Sunan Kalijaga yang sedang melakukan prihatin dengan bertapa ala Kidang (tapa ngidang). Betapa girangnya hati Rasawulan bertemu dengan kakaknya, lantas dia menceritakan asal mulanya pergi dari Tuban dan memilih menjalani laku tapa ngidang.

“Aku bingung selalu dipaksa untuk menikah oleh kanjeng rama, sehingga lebih baik memilih pergi dari Tuban dengan laku tapa ngidang,” tutur Rasawulan.

“Sebaiknya kita kembali ke Tuban, kasihan rama pasti sangat sedih karena ditinggal pergi semua anak-anak yang disayanginya,” ajak Sunan Kalijaga, yang semasa mudanya bernama Raden Mas Sahid. Ia putra tumenggung Wilatikta, ada yang menyebutnya juga Arya Teja, bupati Tuban.

Setelah kembali sampai Tuban, Sunan Kalijaga kemudian meminta Rasawulan untuk bersedia menjadi istri Joko Supa. Keduanya kemudian menikah dengan tata cara Islam. Setelah menikah itulah kemudian joko Supa menekuni kembali sebagai seorang pande atau empu dengan nama empu Supa. Kemampuan dalam membuat berbagai senjata dan peralatan pertanian, mengusik pemikiran Sunan Kalijaga yang kemudian meminta empu Supa untuk membuat lebe coten pisau khusus, untuk menyembelih kambing dengan memberikan bahan besi sebesar klungsu (biji buah asem). (Teguh)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
RS Bhayangkara Bantu Kursi Roda

SLEMAN (MERAPI) - Berbagai kegiatan digelar dalam memperingati Hari Kesehatan Nasional ke-54, Senin (12/11). Selain upacara bendera RS Bhayangkara juga

Close