PERJALANAN HIDUP PANGERAN NOTOKUSUMO (5-HABIS) – Sestradi Pembentuk Karakter Wangsa Pakualaman

KEDEKATAN hubungan Paku Alam I dengan pihak Raffles, memunculkan banyak tafsir terkait dengan relasi yang dipandang memiliki keberpihakkan dan menjadi antek asing. Pada hal dalam banyak peristiwa penting yang terjadi, Pangeran Notokusumo setelah bergelar Paku Alam selalu mempertimbangkan persetujuan Sultan Hamengku Buwono II untuk persoalan yang menyangkut dirinya, walau sebagai satu-satunya orang yang mendapat kepercayaan dari Raffles.

Kepribadian dan sifat rendah hati Paku Alam senantiasa membuat banyak pihak semakin menaruh simpati. Bahkan terkait dengan hubungan antara Kasultanan dengan pihak pemerintahan kolonial Inggris dan Belanda yang terkadang masih sering terjadi riak konflik, Paku Alam lebih banyak memposisikan diri netral.

Dalam Buku Pangeran Notokusumo terbitan Trah Hudyono Yogyakarta di antaranya menyebutkan, sikap Paku Alam menasihati kepada anak dan para prajuritnya, kanjeng Pangeran Adipati memerintahkan anak-anak dan bala tentaranya: “Jangan kalian bertindak sewenang-wenang terhadap ketentuan negara. Pertimbangkanlah dengan hati jernih segala kehendak gupermen. Merasalah bahwa kita berada di posisi terjepit, dan Tuhan yang akan lapangkan langkah kita.”

Upaya dilakukan untuk mengabadikan pelajaran hidup yang diajarkan Paku Alam I, oleh generasi penerusnya kemudian dituliskan dalam berbagai serat di antaranya Serat Rama, Arjunawijaya, Kempalan Dongeng dan Babad Betawi. Ada 21 ajaran kebaikan yang harus dilakukan dan ada 21 perbuatan buruk yang seharusnya dihindari dalam kehidupan. Perbuatan baik itu adalah, Ngadeg, Sabar, Sukur, Narima, Sura, Mantep, Temen, Suci, Enget, Serana, Ikhtiyar, Prawira, Dibya, Swarjana, Bener, Guna, Kuwat, Nalar, Gemi, Prayitna dan Teberi. Sedangkan 21 perbuatan buruk yang harus dihindari adalah berbuat Ladak, Lancang, Lantap, Lolos, Lanthang, Langar, Lengus, Leson, Nglemer, Lamur, Lusuh, Lukar, Langsar,Luwas, Lumuh,Lumpur, Larad, Nglajok, Nglunjak, Lenggak Lengguk. Perbuatan yang sepertinya bagai dipertentangkan satu dengan lainnya ini bagai pasangan perbuatan yang baik dan buruk. Dan itu menjadi pelajaran yang hingga saat ini berlaku dalam kehidupan wangsa Pakualaman.

“Ajaran ini terus dilestarikan dalam Sestradi dan menjadi karakter dasar, kepribadian bagi generasi Pakualaman. Bahkan upaya penyebarannya sebagai nilai-nilai luhur kepada masyarakat terus dilakukan dalam misi Pakualaman sebagai Pengemban Kebudayaan,” tandas KPH. Kusumoparastho.

Pondasi awal berdirinya Kadipaten Pakualaman lebih pada pembentukan karakter seorang kesatria yang memiliki watak luhur, serta tangguh dalam menghadapi sulitnya kehidupan. Sejarah kemudian membuktikan demikian ungkap Kanjeng Kusumo, banyak generasi Pakualaman yang mengukir prestasi kejuangan di berbagai bidang. Salah satunya Ki hajar Dewantara di bidang pendidikan misalnya.

“Karena wilayah kadipaten itu sempit hanya 4000 cacah, sehingga yang dikembangkan adalah peningkatan sumber daya manusianya, dengan menerapkan nilai-nilai dari ajaran Paku Alam I, Sestradi sebagai pembentuk karakternya,” pungkas Kanjeng Kusumo. (Teguh)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
2 Rumah Warga Ludes Terbakar

GROBOGAN (MERAPI) - Kasus kebakaran terjadi lagi di Kecamatan Pulokulon Grobogan. Dua rumah warga Dusun Ngemplak Desa Sembungharjo, Selasa (6/11),

Close