PERJALANAN HIDUP PANGERAN NOTOKUSUMO (4) – Seorang Negarawan Tak Haus Ambisi

SEMASA muda Pangeran Notokusumo memiliki ketertarikan pada banyak hal. Selain tekun belajar sastra Jawa, dia juga banyak belajar tentang politik, bahkan ilmu ketatanegaraan. Selain belajar dari Patih Danurejo dan Raden Tumenggung Notoyudo, peran Pangeran Diponegoro cucu Sunan Amangkurat IV yang menjadi pengikut setia Pangeran Mangkubumi sebelum naik tahta sebagai Sultan Hamengku Buwono I, juga turut memberi andil dalam spiritualitasnya.

Dari ketiga guru inilah yang mengasah kepribadian Pangeran Notokusumo menjadi seorang pangeran yang memiliki keteguhan sikap serta berjiwa tangguh dengan kepribadian berkarakter seorang negarawan. Masa-masa sulit Pangeran Notokusumo terjadi sebagai dampak dari terjadinya turbulensi politik dalam kraton. Dalam rezim masa pemerintahan kolonial Belanda-Prancis di bawah kekuasaan Gubernur Jenderal Daendels dan Janssens, upaya menyingkirkan Pangeran Notokusumo mendapat sokongan kuat.

Setelah mengalami rencana pembunuhan yang gagal oleh landdrost Cirebon, Waterloo, perjalan pun dilanjutkan ke Bandung dan selanjutnya menuju Jatinegara Batavia. Sampai terjadi masa pergantian gubernur jenderal di Jawa, sebagai akibat dari krisis politik yang terjadi di Eropa, yang kemudian menarik Daendels kembalike negara asalnya. Keadaan inilah yang kemudian mempertemukan Pangeran Notokusumo dengan Raffles.

Setelah dari Surabaya Pangeran Notokusumo diperbolehkan kembali ke Yogyakarta. Hingga terjadinya penyerangan bala tentara sepoy atas kraton di bawah kendali Raffles. Jatuhnya kraton akibat serangan itu, tidak dimanfaatkan oleh Pangeran Notokusumo untuk mengambil keuntungan meski hal itu sangat terbuka dilakukan karena kedekatannya dengan Raffles.

“Pangeran Notokusumo memiliki sifat kesetiaan yang tinggi kepada Sultan HB, meski peristiwa yang dialami sangat menyakitkan tapi tidak menaruh dendam apalagi memiliki hasrat untuk merebut tahta. Bahkan dia tampil sebagai mediator agar kehancuran kraton bisa diminimalisir akibat gempuran tentara sepoy,” tutur Kanjeng Kusumo.

Sikap demikianlah justru kemudian membuat Raffles menaruh simpati dan hormat yang kemudian memberinya gelar Pangeran Merdiko dan setelah diwisuda di salah satu tempat di dalam kraton, Pangeran Notokusumo bergelar Adipati Paku Alam I. Dengan mendapatkan hak-haknya sebagai Adipati yang merdeka dan tidak memiliki keterikatan kepada Kasultanan Yogyakarta. Selain itu juga diberi wilayah seluas 4000 cacah yang diambil dari tanah kasultanan yang berada di sebelah Barat Sungai Progo, meliputi Kapanewon Galur, Tawangrejo, Tawangsoko dan Tawangkarto yang disatukan dalam Kabupaten Karangkemuning disebut Adikarto. (Teguh)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
UMK di Yogya Lebih Tinggi Dibanding KHL

UMBULHARJO (MERAPI) - Sebagian serikat pekerja menilai Upah Minimum Kota/Kabupaten (UMK) 2019 Kota Yogyakarta yang telah disepakati gubernur dan walikota

Close