PERJALANAN HIDUP PANGERAN NOTOKUSUMO (2) – Seorang Pangeran Dilucuti Layaknya Pesakitan

PANGERAN Notokusumo terlahir dari Ibu bernama R.A Srenggorowati, anak seorang Lurah Desa Karangnongko, Bagelen. Kelak dikemudian hari, oleh Sultan Hamengku Buwono I diangkat sebagai bupati Bagelen dengan gelar Raden Tumenggung Notoyudo. Di antara para pangeran, menurut penuturan Kanjeng Kusumo, Pangeran Notokusumo memiliki kedekatan dengan ayahnya, Sultan HB.I. Dalam kedudukannya sebagai seorang putra kinasih, Pangeran Notokusumo boleh dibilang melampaui peran Pangeran Hangabei(putra sulung Sultan HB I sebagai putra mahkota).

Kecakapan Notokusumo dalam banyak hal, seperti ilmu ketatanegaraan, sastra serta kemiliteran atau tata gelar keprajuritan, membuatnya dipercaya Sultan HB I untuk mengelola pasukan khsusus bersenjata, yaitu korps Prajurit Trunokinasih. Dalam banyak kesempatan dia juga banyak diminta untuk turut mendampingi berbagai pertemuan penting Sultan HB I dalam perundingan di Kasultanan.

“Salah satu perundingan penting adalah ketika Sultan menerima kunjungan Gubernur dan direktur Pantai Timur Laut Jawa De Heer J.R van der Burgh dan Siberg, Pangeran Notokusumo justru yang dimintan untuk ikut mendampingi Sultan,” tutur Kanjeng Kusumo yang juga mantan anggota Dewan Pers.

Dijelaskan dia, ada kemudian asumsi yang seolah muncul kalau Pangeran Notokusumo sengaja dipersiapkan untuk menggantikan menduduki tahta. Terlebih lagi begitu ditegaskan pemilik nama asli Sutomo Parastho ini, Pangeran Notokusumo diamanati keris pusaka Kyai Gumarang yang merupakan peninggalan dari para leluhurnya. Keris ini merupakan salah satu keris ampuh yang pernah digunakan Putri Retnodumilah ketika menjadi senopati melawan Panembahan Senopati, namun hati Retnodumilah luluh dengan kesaktian pendiri Mataram Islam Kotagede itu.

“Dalam pandangan filosofi orang Jawa, pemberian keris itu sebagai simbolik dari penyerahan kewenangan, ini yang kemudian banyak menimbulkan tafsir di kalangan kraton, terutama Kanjeng Ratu Bendoro merasa khawatir posisi Putra Mahkota akan tergeser. Lantas munculah persekongkolan untuk menyingkirkan Pangeran Notokusumo dan Pangeran Notodiningrat (putra sulung Notokusumo),” urai Kanjeng Kusumo.

Keduanya ditawan dan dilucuti senjatanya layaknya pesakitan yang menjadi musuh kerajaan, bahkan berbagai atribut kebesaran sebagai seorang pangeran putra Sultan pun turut disita. Disinilah awal perjalanan spiritualitas Pangeran Notokusumo dalam menjalani kehidupannya sebagai tahanan bagai menjalani hukuman yang dia sendiri tidak tahu menahu apa kesalahan dan dosanya kepada Sultan HB I dan kerajaan yang dicintainya.

“Dari kedudukan yang mulia, lantas dijatuhkan sampai seperti seorang penjahat. Menjalani pembuangan dengan perlakuan kasar bagai pesakitan, ini kalau tidak memiliki jiwa dan keteguhan hati yang kuat, jelas tidak mampu menjalaninya. Maka dari sinilah kemudian banyak nilai-nilai dan pelajaran hidup Pangeran Notokusumo yang oleh generasi penerusnya kemudian diabadikan sebagai ajaran Sestradi,” tutur Kanjeng Kusumo. (Teguh)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Tak Asal Pilih Pacar

  DI zaman yang serba tak menentu ini, untuk mendapatkan pacar harus pilih-pilih atau selektif. Sebab, bila salah pilih, yang

Close