KERIS TANGGUH ENTHO-ENTHO – Dulu Alat Perang Sekarang Jadi Kelangenan

BAGI sebagian besar orang Jawa, ada yang masih mendudukan keris atau pun tosan aji lainnya bukan hanya sekadar benda biasa. Hasil karya perajin atau pun empu sohor ini bahkan ada yang mendudukannya menjadi pusaka, bukan sebagai alat bertempur layaknya senjata tajam lainnya. Sebilah keris justru disakralkan dan berpantang dijadikan senjata untuk membunuh. Keris menempati kedudukannya sebagai pusaka yang memiliki nilai lebih tinggi dari sekadar senjata untuk bertempur dan membunuh, menumpahkan darah.

“Dalam sejarah penggunaan keris sebagai alat untuk membunuh mungkin pada awal kerajaan Singosari ketika Ken Arok membunuh Tunggul Ametung. Hingga ada yang menyebutnya kutukan keris Empu Gandring,” tutur Empu Sungkono Arumbrojo pewaris tangguh Entho-entho di rumahnya Seyegan.

Perkembangan selanjutnya meski keris masih dijadikan senjata, namun sedikit cerita yang menyebutkan secara langsung menggunakan keris sebagai senjata untuk saling bunuh. Bahkan pada tataran masyarakat tertentu berpandangan bahwa keris memiliki kaitan dengan kedudukan dan status seseorang dalam masyarakat. Menurut Sungkono, keris tangguh entho-entho saat ini lebih banyak menjadi semacam klangenan karena keindahan pamornya yang memiliki makna kamuliaan pemiliknya.

Banyak yang kemudian mampu membaca dengan cermat pamor dalam bilah keris dikaitkan dengan lancarnya rezeki, mulusnya perjalanan karier seseorang bahkan karisma dan kewibawaan seorang pejabat juga bisa dipengaruhi dari keris pusaka yang dimilikinya. Bukan itu saja, keris pun diyakini memiliki kekuatan magis terkait dengan banyak masalah yang bersentuhan dengan dunia metafisika.

“Meski sebenarnya pamor itu semua disebut tiban, karena tidak bisa direkayasa menurut keinginan empu maupun pemesannya. Namun pada sebagian orang justru melihat pamor bukan dari kekuatan energi dalam proses penempaan bahan di besalen, tapi lebih pada bentuknya yang unik itu,” tandas generasi ke 17 dari Empu Supa Majapahit ini.

Sungkowo mengaku, meski zaman semakin maju namun dia tidak ingin pelepas tradisi pembuatan keris menggunakan berbagai teknologi moderen. Di tengah besalen tetap ada tungku atau prapen. Prapen terhubung dengan ububan, sejenis pompa tradisional dari bumbung yang digunakan untuk membesarkan api. Dekat prapen ada kolam air berukuran kecil atau disebut kowen.

“Semuanya alat masih tradisional. Kalau peralatan ini diganti hasilnya pasti akan beda,” ucap Sungkowo yang mengaku semua peralatan di besalennya merupakan peninggalan orangtuanya empu Djeno Harumbrodjo.

Nguri-uri dan melestarikan tradisi menjadi tujuan pokok Sungkono dalam berkarya. Sehingga berbagai pantangan yang ada tetap dijalani lakunya. Seperti ada naas hari yang dalam keyakinan para leluhurnya pantang untuk bekerja menempa saton, maka hal itu dilakukannya. Seperti pada hari Selasa Pahing misalnya, serta hari-hari naas lainnya terkait dengan prastawa tertentu yang berkaitan dengan ketidakmujuran ataupun musibah duka dalam keluargaanya.

Dalam pandangan Sungkono, kalau belakangan keris menjadi semacam komuditas dan banyak anak muda yang kemudian menjadikan keris sebagai ajang bisnis, itu dikembalikan kepada para pelakunya. Namun menurut hemat dia, sebilah keris memiliki jodoh atau kecocokan watak dengan pemiliknya (pemesannya), sehingga tidak bisa begitu saja dipindahtangankan secara sembrono.

“Keris yang bagus itu disesuaikan dengan pitungan atau hitungan neptu pemiliknya, bahkan seorang empu pun tidak serta merta membuat keris yang dipesan. Banyak pertimbangan terkait dengan memilih hari yang tepat sesuai dengan jatuhnya kabegjan seorang pemesan,” pungkas Sungkowo. (Teguh)

Read previous post:
Bunga Kenop Atasi Sulit Kencing

TANAMAN bunga kenop mempunyai tampilan khas dan cocok dijadikan sebagai tanaman hias. Selain itu layak ditanam di kebun herbal atau

Close