JEJAK PEWARIS TANGGUH ENTHO-ENTHO (5) – Selaraskan Keris dengan Neptu Pemesan

Menurunkan keahlian dalam pembuatan benda-benda pusaka, seperti keris atau pun mata tombak, tidak semudah memberikan ilmu pada umumnya. Tidak cukup memiliki minat dan sedikit bakat serta digembleng dengan banyak latihan. Ternyata laku seorang empu tidak sesederhana itu prosesnya.

UNTUK menjadi ahli dalam pembuatan keris, dibutuhkan berbagai laku spiritual, harus memahami berbagai ilmu pengetahuan pendukung. Seperti ilmu hitungan hari atau pawukon, dengan mempelajari kitab wariga dan perhitungan almanak Jawa, juga dituntut punya kasantosan batin yang tangguh dan kokoh.

“Godaan dan cobaan dalam proses membuat bilah keris yang sesuai dengan neptu pemesannya memang sangat berat dan terkadang banyak tantangannya,” tutur Sungkowo, yang mulai terjun menjadi panjak membantu empu Djeno Harumbrodjo, ayahnya sejak tahun 1970.

Menurut dia, selama menjalani proses sebagai panjak Sungkono mengaku sering mendapatkan bimbingan dari empu Djeno, baik teknik penempaan saton (bakalan keris) hingga menjadi sebuah keris yang memiliki pamor. Bahkan bimbingan spiritualitas terkait dengan tugas dan kewajiban seorang empu serta berbagai pamali atau larangan yang menjadi prinsip hidup seorang empu juga disampaikan, dan menjadi tuntunan setiap kali bekerja di besalen.

Sungkowo mencurahkan kehidupannya sebagai empu secara utuh pada 2006, setelah ayahnya mangkat. Totalitasnya dalam berkarya sampai saat ini untuk meneruskan jejak ayahnya, telah menghasilkan ratusan bilah jumlah keris. Hanya saja dia tidak mengingat jumlah pastinya, namun setiap tamu yang datang dan memesan keris tercatat rapi di buku tamunya.

“Persisnya saya lupa sudah berapa jumlah karya yang saya buat dan menjadi pesanan banyak orang, tidak perlu disebutkan siapa dan jabatannya apa. Karena menurut saya orang yang memesan keris pastilah menyukai budaya Jawa. Entah sebagai ageman atau pun dijadikan kebanggaan status sosial itu dikembalikan pada masing-masing,” tandasnya.

Sebagai hasil karya yang melalui berbagai proses baik fisik maupun spiritual, menurut Sungkono keris merupakan hasil karya budaya yang memiliki nilai-nilai luhur bila mampu mencerna secara mendalam. Keindahan keris bukan saja terletak pada gemblengan bilah yang kemudian memancarkan berbagai sebutan nama pamor. Tetapi lebih pada kahekat bahwa sebuah keris itu tercipta dari paduan antara keinginan seorang pemesan dengan olah karya dan batin seorang empu yang kemudian memiliki kesamaan krentek, disitulah ikatan batin keduanya terbentuk.

“Pasti pernah dengar kisah keris empu Gandring dan Ken Arok, karena sang empu mengetahui maksud dari pemesanan keris itu akhirnya sengaja di bikin lama dan tidak sempurna, akhirnya keris itu kemudian merenggut nyawa si pembuatnya,” ucap empu yang mengaku selalu menselaraskan ricikan fisik keris dengan weton pemesannya. (Teguh)

Read previous post:
Meteran Listrik itu Tak bergerak

KEDAMAIAN warga Palar Trucuk terusik, sejak wilayah mereka diterjang puting beliung hingga menyebabkan pohon beringin di kompleks makam Ronggowarsito patah.

Close