JEJAK PEWARIS TANGGUH ENTHO-ENTHO (3) – Proses Regenarsi Berlangsung Alami

Semula ada tiga empu ternama di masa-masa awal berdirinya Kasultanan Ngayogyakarta. Sayang, dua di antaranya tidak diteruskan oleh keturunannya dan tinggal satu yang mampu bertahan melawan zaman.

TIGA empu ternama, yaitu empu Entho Wayang, empu Rajekwesi dan empu Lobang merupakan generasi keturunan ke-11 dari Empu Tumenggung Supadriyo, yang juga seorang empu kenamaan pada masa Kerajaan Majapahit. Ketiga empu tersebut melakukan eksodus ke Kerajaan yang baru berdiri, Kasultanan Ngayogyakarta. Menurut Sungkono, ini adalah bentuk pengabdian para leluhurnya dalam upaya memperkuat kasultanan yang dipimpin Sultan Hamengku Buwono I.

Dijelaskan Empu Sungkono Harumbraja, para leluhurnya sebelum memilih mengabdi pada Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, sempat juga melayani pembuatan berbagai pusaka dan keris pada kerajaan besar di Jawa. “Sebelum palih negari akibat perjanjian Giyanti, leluhur kami juga pernah mengabdi dan melayani pembuatan berbagai pusaka dan keris di Kerajaan Mataram Islam, dari masa Pajang, Mataram Kotagede, Kerto, Kartosura hingga Surakarta,” tuturnya.

Setelah Perjanjian Giyanti yang membagi Kerajaan Mataram menjadi dua wilayah, keturunan Empu Tumenggung Supadriyo ini memilih hijrah memasuki Yogyakarta. Empu Entho Wayang memilih tinggal di dusun Entho-entho, Moyudan yang letaknya relatif berdekatan dengan pusat pemerintahan sementara yang saat itu berada di Pesanggrahan Ambarbinangun, Gamping. Regenerasi pun silih berganti dalam silsilah keluarga empu Entho Wayang. Keahlian sebagai pembuat senjata pusaka terus diturunkan dari generasi ke generasi berikutnya dengan proses alami.

MERAPI-DOK. BPCB D.I.YOGYAKARTA Pesanggrahan Ambarbinangun.
MERAPI-DOK. BPCB D.I.YOGYAKARTA
Pesanggrahan Ambarbinangun.

Sementara itu pada kedua empu lainnya, yaitu empu Rajekwesi di Balangan dan empu Lobang di Cebongan, entah pada generasi keberapa ilmu sebagai pembuat senjata dan pusaka tidak lagi dijadikan profesi oleh anak keturunannya. Menurut empu Sungkowo, ada dua kemungkinan ilmu pembuatan senjata dan pusaka keris tidak bisa berlanjut dan terhenti.

“Karena tidak memiliki keturunan baik anak laki-laki maupun perempuan, atau karena tidak ada anak yang mau melanjutkan pekerjaan sebagai seorang empu,” tuturnya. (Teguh)

 

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Penjahat Seks Gentayangan

  INI peringatan bagi para perempuan untuk lebih waspada ketika mengendarai sepeda motor, entah itu sendirian atau dibonceng. Kewaspadaan tentu

Close