Upacara Adat Wahyu Kliyu Warga Dusun Kendal, Rela Begadang Demi Ngalap Berkah

Warga Dusun Kendal, jatipuro berkumpul di pelataran dusun untuk mengikuti upacara adat Wahyu Kliyu. (MERAPI-Abdul Alim)
Warga Dusun Kendal, jatipuro berkumpul di pelataran dusun untuk mengikuti upacara adat Wahyu Kliyu. (MERAPI-Abdul Alim)

PUNCAK upacara adat Wahyu Kliyu berlangsung di Dusun Kendal, Desa/Kecamatan Jatipuro, Karanganyar, Kamis (27/9) dini hari. Ratusan masyarakat adat Dusun Kendal, Desa/Kecamatan Jatipuro rela begadang demi ngalap berkah. “Wahyu Kliyu ini berlangsung sudah delapan generasi. Orangtua menurunkan tradisi ini ke anak cucunya. Semoga terpelihara seterusnya. Bukan sekadar upacara adat, namun media bersilaturahmi antarwarga. Meski sudah merantau, mereka pasti pulang untuk merayakan Wahyu Kliyu,” kata kata Rakino (65) sesepuh Dusun Kendal.

Pakem prosesi tiap 15 Muharam tetap dipertahankan. Sebanyak 315 keluarga di Dusun Kendal, masing-masing membuat 344 potongan apem. Kue dari tepung beras itu dilempar ke hamparan pelataran yang telah dilapis daun pisang supaya makanan itu tetap bersih karena akan dibawa pulang untuk berbagai keperluan. Banyak yang meyakini apem Wahyu Kliyu membawa berkah. Sambil melemparnya, kaum pria di pelataran dusun mengucap ‘wahyu kliyu’ berulang kali. Kata tersebut berawal dari zikir Yaa Hayyu Ya Qoyyum yang artinya memuji Allah zat yang maha agung.

Pelemparan potongan apem berlangsung setengah jam mulai pukul 24.00 WIB sampai lewat tengah malam. Suasana hening menambah khusyuk masyarakat adat itu dalam bertirakat.

Diceritakannya, ritual adat turun temurun ini sempat berhenti puluhan tahun silam karena wilayah tersebut dilanda paceklik. Namun, petaka justru mendera warga akibat serangan wabah, kekeringan, tanah merekah dan berbagai bencana yang disebut pagebluk. Akhirnya bedasar saran pemuka masyarakat, upacara adat wahyukliyu kembali dilanjutkan sampai sekarang. “Harapan pada tahun ini, masyarakat menjadi tentram, orang dimudahkan mencari nafkah, dan tanaman pertanian tumbuh subur,” ucap Rakino.

Bupati Juliyatmono yang hadir dalam prosesi itu menjadi orang pertama yang melempar apem. Ia mengatakan upacara adat merupakan bentuk rasa syukur atas rahmat Tuhan Yang Maha Esa. Perdebatan hal itu justru berefek kurang bagus. “Bagi yang tidak suka tidak usah melihat. Sebaiknya saling menghormati. Karena ini sebuah keyakinan agar guyub rukun hidupnya,” katanya.

Pada tahun ini digelar pentas wayang kulit semalam suntuk untuk menghibur para warga yang begadang menunggu pagi. (Lim)

Read previous post:
SEMINAR NASIONAL PENGUATAN KARAKTER BANGSA-Inovasi Pendidikan di Era Digital

FAKULTAS Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) menggelar seminar nasional dan call for papers di Auditorium

Close