MENGUNGKAP SITUS KERATON MATARAM PLERED (3) – Situs Sudah Sulit Direkonstruksi

MERAPI-ALBES SARTONO Hasil Penggalian di Situs Keraton Mataram Plered.
MERAPI-ALBES SARTONO
Hasil Penggalian di Situs Keraton Mataram Plered.

Tidak lama setelah menerima tampuk pemerintahan, Sunan Amangkurat Tegalwangi segera memindahkan keratonnya dari Kerta ke Plered. Dalam istilah Jawa perpindahan dari Kerta ke Plered disebut dengan mleret (bergeser). Disebut demikian karena perpindahannya hanya berjarak dekat.

DARI kata mleret ini, maka keraton baru setelah Kerta ini disebut dengan Keraton Plered. Akan tetapi istilah plered ini diduga pula berasal dari nama bentuk air terjun yang meluncur dari dam atau bendungan di zaman itu. Bendungan atau dam yang dimaksud adalah bendungan di Segarayasa. Menurut Babad Momana pemindahan keraton dari Kerta ke Plered ini berlangsung mulai 26 Janunari 1648 M, tetapi menurut Babad Sangkala tercatat bahwa kepindahan raja ini terjadi pada tahun 1569 Jawa (1647 M). Kepindahan Sunan Amangkurat Agung ini dalam Babad Tanah Jawi disebutkan oleh karena ia tidak bersedia tinggal di bekas keraton yang dibangun oleh ayahnya, Sultan Agung.

Keraton baru (Plered) ini dinamakan Keraton Purarya. Setelah dua tahun dari kepindahannya itu, Masjid Agung Plered pun didirikan. Selang satu tahun kemudian Sunan Amangkurat Agung juga memerintahkan orang-orang Mataram untuk memperluas krapyak wetan. Bangunan yang pernah ada/dibangun di kompleks keraton ini adalah bangunan Prabayeksa, Kemandungan, dan Srimanganti. Data arkeologis atau artefak yang tersisa yang dapat dilacak boleh dikatakan sangat minim.

Bisa dikatakan bahwa bekas bangunan Keraton Mataram Plered tidak bersisa lagi kecuali sebaran batuan dan beberapa umpak yang sangat sulit direkonstruksi dan direhabilitasi kembali untuk mendapatkan gambaran wujud atau struktur bangunan aslinya. Data yang masih tersisa sampai saat ini antara lain berupa toponim. Toponim-toponim itu antara lain Kedaton, Keputren, Kanoman, Demangan, Kauman, Segarayasa, dan Pungkuran.

Catatan-catatan utusan Belanda seperti Rijklof van Goens yang pada bulan Juni 1648 M mengunjungi Keraton Mataram Plered menyatakan bahwa ia melihat dalem yang berbentuk persegi (yang sesungguhnya lebih tepat disebut seperti belah ketupat). Dalam catatan van Goens apa yang disebut sebagai dalem tersebut memiliki luas 600 Moede (sekitar 2.256 meter persegi). (Albes Sartono/Jbo)

 

Read previous post:
Nasi Sudah Menjadi Bubur

KEHIDUPAN masa kecil yang penuh lika-liku, mempengaruhi karakter Tinuk. Cuek dan punya ego tinggi, sehingga apapun keinginannya harus dituruti. Padahal

Close