MENGUNGKAP SITUS KERATON MATARAM PLERED (2) – Militansi Prajurit Mataram Tinggi

Danau buatan Segarayasa bisa dikatakan tidak berbekas lagi. Kini hanya ada beberapa ruas tanggul yang banyak digali untuk produksi batu bata. Dalam lidah warga setempat Segarayasa (Segoroyoso) sering disebut dengan Nggroso. Dusun yang permukaan tanahnya relatif lebih rendah dari dusun sekitarnya.

BARANGKALI kita boleh membayangkan bagaimana dahsyatnya tentara Mataram yang dikendalikan dari pedalaman Jawa bagian selatan baik dari Kerta maupun Kotagede ketika nglurug ‘mendatangi’ perang ke Batavia. Betapa berat medan darat dan laut yang ditempuh pasukan Mataram waktu itu untuk menuju Batavia. Lebih-lebih peralatan dan sarana jalan pada waktu itu sungguh masih sangat sederhana bahkan sangat buruk. Akan tetapi militansi Sultan Agung beserta pasukan Mataram itu sendiri sesungguhnya telah cukup menggentarkan hati kumpeni Belanda waktu itu.

Hal ini pernah diungkapkan oleh kaum intelektual Belanda sendiri yang begitu kagum akan pasukan Mataram yang dapat menganeksasi hampir seluruh Tanah Jawa. Padahal pasukan ini tidak dibekali dengan sistem peralatan dan perbekalan (logistik) yang memadai. Tidak ada tenda atau bivak seperti zaman sekarang. Tidak ada dropping logistik yang teratur dan selalu bisa diharapkan. Tidak ada regu kesehatan yang memadai. Tidak ada regu evakuator yang rapi. Tidak ada baju anti peluru, topi baja, sepatu lars, dan sebagainya. Sekalipun demikian pasukan Mataram tetap memiliki militansi yang sangat kuat dengan daya survival yang juga mengagumkan.

MERAPI-ALBES SARTONO Kompleks Museum Benda Cagar Budaya Plered.
MERAPI-ALBES SARTONO
Kompleks Museum Benda Cagar Budaya Plered.

Orang-orang Belanda juga sangat kagum dengan sistem informasi yang digunakan orang-orang Jawa waktu itu yang dalam waktu tidak sampai setengah hari mampu mengumpulkan orang/prajurit dalam jumlah ribuan di alun-alun Keraton Mataram. Dengan bunyi atau kode tertentu dari kentongan atau dentuman meriam orang Mataram dapat dengan segera meninggalkan apa saja untuk berkumpul di alun-alun istana untuk memenuhi panggilan sang raja. Itulah sedikit gambaran mengenai rakyat Mataram khususnya pada zaman pemerintahan Sultan Agung. Setelah Sultan Agung wafat ia segera digantikan oleh Sunan Amangkurat Agung yang juga terkenal dengan nama Sunan Amangkurat Tegalwangi/Tegalarum.

Tidak lama setelah menerima tampuk pemerintahan, Sunan Amangkurat Tegalwangi segera memindahkan keratonnya dari Kerta ke Plered. Dalam istilah Jawa berpindahnya keraton dari Kerta ke Plered ini disebut dengan istilah mleret ‘bergeser’. Disebut mleret karena perpindahannya hanyalah perpindahan dengan jarak yang amat pendek (hanya sekitar 1 km). (Albes Sartono/Jbo)

 

Read previous post:
Bunga Matahari Lawan Serangan Disentri

ANEKA bagian dari tanaman berkhasiat layak untuk rutin dimanfaatkan, baik sebagai langkah mencegah ataupun melawan gangguan kesehatan. Pemanfaatan bahan-bahan alami

Close