Kurban & Solidaritas Umat

MOMENTUM Idul Adha adalah momentum yang bermakna bagi umat Islam setiap tahunnya. Berjuta umat Islam dari seluruh Negara berkumpul di kota Mekah untuk mengikuti puncak prosesi ibadah haji. Pun demikian di berbagai belahan dunia, umat Islam melaksanakan ibadah kurban. Poin terpenting yang hampir kita lupakan, di dalam prosesi ibadah kurban…bahwa semangat berkurban adalah semangat solidaritas, semangat berbagi. Yang memiliki kelebihan rezeki, berbagi kebahagiaan dengan saudara-saudaranya, meski secara fisik mereka belum saling mengenal satu dan lainnya. Hati yang selalu ingin berbagi, adalah kunci menuju makom takwa.

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (Al-Hajj: 37)
Jika saja prinsip-prinsip solidaritas ini bisa kita jalankan dengan istikomah, melalui prosesi yang tertuang di dalam ibadah kurban, infak, zakat, sedekah dll. Saya sangat percaya, jurang pemisah antara mereka yang berpunya dan para dhu’afa dapat dijembatani. Sehingga, kamu dhu’afa bisa dibantu dientaskan, anak-anak yatim piyatu bisa sekolah hingga level tertinggi yang mereka inginkan.

Di zaman kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz, baitul maal berjalan dengan sangat efektif. Saat kesadaran berzakat dan sedekah tumbuh dengan sangat baik. Dana yang terkumpul benar-benar sampai kepada mustahiknya. Hingga di zaman itu, tidak ada lagi orang yang berhak menerima zakat. Karena dana zakat yang dimanfaatkan dengan jujur, bisa memutar roda perekonomian bagi umat. Rakyat yang membutuhkan tidak hanya disuport untuk kebutuhan makan dan minum saja, tapi dibantu untuk bisa survive. Mereka yang kemudian sudah mandiri, berusaha memback-up saudara-saudaranya yang lain. Ini contoh zaman keemasan, saat konsep berbagi tadi dijalankan secara murni dan istikomah.

Maka…pada momentum kemerdekaan Republik Indonesia yang tercinta ini, bersamaan dengan momentum Idul Adha ini, saya mengajak kepada seluruh lapisan umat untuk terus menjaga kebersamaan, saling menyayangi dan saling menghargai sesama. Karena kebersamaan adalah kunci bagi persatuan bangsa. Dan semangat untuk selalu saling berbagi ini harus selalu kita pupuk…karena semangat ini adalah kunci ibadah, kunci mu’amalah dan juga selaras dengan karakter dan budaya masyarakat kita, yang selalu siap mengedepankan kepentingan bersama di atas segalanya…hidup guyub, rukun dan harmonis. Wallahu a’lamu bishawwab.

Pin It on Pinterest

Read previous post:
BERIKAN JAMU REMPAH RUTIN – Jaga Suara Derkuku Makin Berkualitas

DERKUKU termasuk jenis burung anggungan yang sampai kini masih tetap populer layaknya perkutut maupun puter. Latihan bersama (latber) maupun lomba

Close