KETIKA MAJAPAHIT MULAI SURUT (2) – Nama Brawijaya Lebih Moncer

MERAPI-JB SANTOSO Stupa dan perwara, ciri corak agama Syiwa-Buddha.
Stupa dan perwara, ciri corak agama Syiwa-Buddha.

Demak memang bukan kesultanan Islam pertama yang eksis di Nusantara. Namun dapat dikatakan bahwa Demak memiliki pengaruh lebih kuat dibanding beberapa kesultanan yang sudah lebih dulu ada. Munculnya kesultanan Demak juga turut mempercepat penyebaran Islam di berbagai daerah di Nusantara.

BRAWIJAYA yang mangkat pada tahun 1478, yang juga disebut dengan Brawijaya V adalah raja terakhir Majapahit. Tokoh legendaris ini sering yang dianggap sama dengan Bhre Kertabhumi, yaitu nama yang ditemukan dalam naskah Pararaton.

Namun ada yang mengatakan, Brawijaya cenderung identik dengan Dyah Ranawijaya. Tokoh yang pada 1486 mengaku sebagai penguasa Majapahit, Janggala dan Kediri, setelah ratu ini berhasil menaklukkan Bhre Kertabhumi.

Banyak versi mengungkap nama Brawijaya. Menurut Serat Kanda, misalnya, nama asli Brawijaya adalah Angkawijaya, putra Prabu Mertawijaya dan Ratu Kencanawungu. Mertawijaya adalah nama gelar Damarwulan yang menjadi raja Majapahit setelah mengalahkan Menak Jingga bupati Blambangan.

Sementara menurut versi naskah babad Jaka Sesuruh, Raden Wijaya bukan pendiri Majapahit. Dan menurut Serat Pranitiradya, yang bernama Brawijaya bukan hanya raja terakhir saja, tetapi juga beberapa raja sebelumnya. Naskah serat ini menyebut urutan raja-raja Majapahit. Yang pertama adalah adalah Jaka Sesuruh yang bergelar Prabu Bratana. Kemudian diteruskan Prabu Brakumara.

Daru Prabu Brakumara kemudian menurunkan Prabu Brawijaya I, diteruskan Ratu Ayu Kencanawungu, dilanjut Prabu Brawijaya II sampai dengan Prabu Brawijaya V yang merupakan raja teraklhir Majapahit.

Sering terjadi kesalah pahaman dgn menganggap Brawijaya (bhre Kerthabumi) sebagai Dyah Ranawijaya, yang menyerang keraton Trowulan, dan memindahkan Ibukota Kerajaan ke Kediri atau Daha.

Meskipun sangat populer, nama Brawijaya ternyata tidak pernah dijumpai dalam naskah Pararaton ataupun prasasti-prasasti peninggalan Kerajaan Majapahit. Oleh karena itu, perlu diselidiki dari mana para pengarang naskah babad dan serat memperoleh nama tersebut.

Nama Brawijaya berasal dari kata Bhra Wijaya. Gelar bhra adalah singkatan dari bhatara, yang bermakna baginda. Sedangkan gelar bhre yang banyak dijumpai dalam Pararaton berasal dari gabungan kata bhra i, yang bermakna baginda di. Dengan demikian, Brawijaya dapat juga disebut Bhatara Wijaya.

Menurut catatan Tome Pires yang berjudul Suma Oriental, pada tahun 1513 di Pulau Jawa ada seorang raja bernama Batara Vigiaya. Ibu kota kerajaannya terletak di Dayo. Pemerintahannya hanya bersifat simbol, karena yang berkuasa penuh adalah mertuanya yang bernama Pate Amdura. Pararaton hanya menceritakan sejarah Kerajaan Majapahit yang berakhir pada tahun 1478 Masehi (atau tahun 1400 Saka). Pada bagian penutupan naskah tersebut tertulis:
Bhre Pandansalas menjadi Bhre Tumapel kemudian menjadi raja pada tahun Saka 1388, baru menjadi raja dua tahun lamanya kemudian pergi dari istana anak-anak Sang Sinagara yaitu Bhre Kahuripan, Bhre Mataram, Bhre Pamotan, dan yang bungsu Bhre Kertabhumi terhitung paman raja yang meninggal dalam istana tahun Saka 1400. (dari berbagai sumber)-(JB Santoso)

 

Read previous post:
Apel Kurangi Risiko Penyakit Jantung

IKHTIAR mewujudkan sehat sepanjang hayat penting dilakukan siapa saja. Berbagai jurus atau kiat dapat terapkan tanpa perlu membutuhkan biaya mahal,

Close