DARI KUTHAGEDHE, MATARAM ISLAM BERJAYA (10-HABIS) – Kuthagedhe Destinasi Sungguh Elok

Kotagede atau Kuthagedhe kini menjadi destinasi wisata yang amat menarik bagi wisatawan mancanegara maupun wisdomes. Bukan hanya karena terdapat situs-situs yang layak dikunjungi untuk memperkaya khazanah kebudayaan kita melainkan, yang tak kalah kondang, adalah sentra kerajinan peraknya.

BUAH karya perajin perak Kotagede tak hanya diburu para wisatawan domestik melainkan sudah tersebar sampai ke manca negara karena keindahan karyanya. Kotagede sebegai sentra kerajinan perak, tidak hanya kondang di Yogyakarta melainkan juga telah dikenal di berbagai kota di Indonasia.

Berwisata ke Yogya belum lengkap rasanya kalau belum mengunjugi Kotagede, selain berburu kerajian perak kita bisa menapaki situs-stus kuna yang amak menarik. Ketika kita masuk ke kompleks Makam Agung, misalnya, persis di seberang jalan dari kompleks makam kita bisa melihat sebuah rumah tradisional Jawa.

Namun bila mau berjalan 50 meter ke arah selatan, kita akan melihat sebuah gapura tembok dengan rongga yang rendah dan plakat yang yang bertuliskan “cagar budaya”. Masuklah ke dalam, di sana Anda akan melihat rumah-rumah tradisional Kotagede yang terawat baik dan benar-benar berfungsi sebagai rumah tinggal.

Berjalan ke selatan sedikit lagi, kita akan melihat 3 pohon beringin berada tepat di tengah jalan. Di tengahnya ada bangunan kecil yang menyimpan “watu gilang”, sebuah batu hitam berbentuk bujur sangkar yang permukaannya terdapat tulisan yang disusun membentuk lingkaran: Ita Moventur Mundu S–Ainsi va Le Nonde–Zoo Gaat de Wereld–Cosi van Il Mondo. Di luar lingkaran itu terdapat tulisan Ad Atern an Memoriam Infelics–In Fortuna Consoertes Digni Velete Quidstperis Insani Videte Ignart et Ridete, Contemnite vos Constemtu-IGM (In Glorium Maximam). Entah apa maksudnya.

MERAPI-JB SANTOSO Beringin raksasa, saksi sejarah Mataram Islam.
MERAPI-JB SANTOSO
Beringin raksasa, saksi sejarah Mataram Islam.

Dalam bangunan itu juga terdapat watu cantheng, tiga bola yang terbuat dari batu berwarna kekuning-kuningan. Masyarakat setempat menduga bola batu itu adalah mainan putra Panembahan Senapati. Namun tidak tertutup kemungkinan bahwa benda itu sebenarnya merupakan peluru meriam kuno.

Panembahan Senopati membangun benteng dalam (cepuri) lengkap dengan parit pertahanan di sekeliling kraton, luasnya kira-kira 400 x 400 meter. Reruntuhan benteng yang asli masih bisa dilihat di pojok barat daya dan tenggara. Temboknya setebal 4 kaki terbuat dari balok batu berukuran besar. Sedangkan sisa parit pertahanan bisa dilihat di sisi timur, selatan, dan barat.

Berjalan-jalan menyusuri Kotagede akan memperkaya wawasan sejarah terkait Kerajaan Mataram Islam yang pernah berjaya di Pulau Jawa. Selain itu, kita juga bisa melihat dari dekat kehidupan masyarakat yang ratusan tahun silam berada di dalam benteng kokoh. (- dari berbagai sumber) (JB Santoso)

 

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Sleman Siap Kirim Relawan ke Lombok

SLEMAN (MERAPI) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman akan mengirimkan relawan untuk membantu proses rehabilitasi di Pulau Lombok. Tahap awal, tim

Close