DARI KUTHAGEDHE, MATARAM ISLAM BERJAYA (7) – Bentuk Gerbang Akulturasi pra-Islam

Masjid peninggalan Kerajaan Mataram Islam Kotegede ini sedah mengalami beberapa perbaikan akibat lapuk dan rusak garena gempa bumi. Kompleks Masjid Gede Mataram Kotagede ini berada di desa Sayangan RT 04 Jagalan, Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

KOMPLEKS masjid ini berada di tengah-tengah pemukiman padat penduduk, dikelilingi pagar tembok tebal setinggi 2,5 meter. Salah satu komponen uatama dalam tata kota kuno Kotagede yang amsih lestari hingga ini adalah Masjid Gede Mataram. Kompleks masjid terletak di sebelah barat toponim alun-alun.

Dalam Babad Momama, Panembahan Senopati memerintahkan untuk memebangun masjid dan diselesaikan pada tahun 1511 Jawa atau 1589 Masehi. Masjid ini pernah terbakar pada 1919 M dan diperbaiki samapai selesai pada tahun 1923 M.

Masjid Gede Mataram Koragede memilii atap tajug atau lambang gantung berpenampang tiga pada bangunan utama (liwan), dan limas pada bagian bangunan serambi dan pawestren. Koompleks masjid ini memiliki tiga pintu gerbang dengan bentuk paduraksa, yakni pada sisi timur, utara dan selatan.

Berdasarkan corak dan gayanya, maka dapat diketahui gerbang paduraksa ini merupakan akulturasi gaya arsitektur pra-Islam yang lazim ada di percandian masa klasik, yang banyak ditemui pada masa itu.

MERAPI-JB SANTOSO Gerbang masuk halaman masjid berbentuk paduraksa.
MERAPI-JB SANTOSO
Gerbang masuk halaman masjid berbentuk paduraksa.

Pada halaman masjid terdapat dua bangsal pacaosan dengan atap berbentuk limas an pada sisi utara dan selatan masjid. Selain itu juga terdapat tugu jam yang didirikan pada masa Sri Sunan Pakubuwana X. Secara arsitektural bangunan utama masjid terdiri lima komponen ruang.

Komponen pertama adalah kuncungan. Merupakan akses utama menuju bagian dalam masjid. Bangunan kuncungan ini memiliki atap tipe kampong dengan dua pilar dari struktur bata. Pada bagian gevel atas sisi timur terdapat hiasan kaligrafi serta dua angka tahun 1856 dan 1926.

Komponen kedua adalag jagang atau kolam. Yakni berupa kolam kecil yang mengelilingi serambi sisi utara, selatan dan timur. Pada awalnys, jagang dimanfaatkan sebagai batas suci. Kedalaman jagang masjid ini 60 cm, dan lebarnya sektar 185 cm.

Komponen yang ketiga adalah serambi. Dibedakan menjadi dua, yakni serambu bawah yang terdapat pagar rendah yang berbatasan langsung dengan jagang dan serambi atas dengan 8 tiang saka. Serambi ini memiliki atap berbentuk limasan yang merupakan sebuah bangunan terbuka menyerupai pendapa. (- dari berbagai sumber) (JB Santoso)

 

Read previous post:
871 Peserta Audisi Umum PB Djarum Bersaing di Tahap Screening

KARANGANYAR (MERAPI) - Tahap screening audisi umum beasiswa bulu tangkis PB Djarum diikuti 871 peserta di U11, U13 dan U15

Close