Warga Gelar Sadranan ‘Sewu Kupat’

MERAPI-Zaini Arrosyid Warga antusias mengikuti ritual.
MERAPI-Zaini Arrosyid
Warga antusias mengikuti ritual.

TEMANGGUNG (MERAPI) – Warga Desa Ngemplak Kecamatan Kandangan menggelar tradisi nyadran ‘ Sewu Kupat ‘di sumber air bersih warga di lembah Dawuhan sebagai wujud syukur atas segala nikmat yang diberikan Tuhan, dan melestarikan cinta pada lingkungan alam, Jumat (3/8).

Upacara tradisi dimulai dari diaraknya, dua gunungan yang tersusun dari hasil bumi di desa tersebut, dari depan masjid memutar perkampungan lantas menuju ke lembah Dawuhan, yang berjarak sekitar satu kilometer.

Ribuan warga turut pada ritual itu. Bahkan warga dari luar daerah pun turut larut dalam ritual. Mereka sengaja datang untuk melihat dan mengikuti ritual yang dimaksudkan untuk membuang dan menolak marabahaya itu.

Ritual sendiri di pimpin oleh tokoh adat Tarom (70). Dia menyanyikan kidung berbahasa Jawa, lantas berdoa berisi syukur atas segala nikmat dari Tuhan, dan meminta pada Tuhan untuk selalu melimpahkan nikmat kesehatan, panen berlimpah dan perlindungan dari segala marabahaya. Usai ritual dan doa, dilanjutkan pembagian gunungan, ketupan dan saling ciprat air diantara warga. Gunungan dan kupat langsung ludes. Sebagian kupat dimakan bersama warga di sekitar sumber air.

Kades Ngemplak Sri Astu Widi Subagyo mengatakan sadran kupat sewu diadakan tiap tahun, maksudnya melestarikan tradisi dan mengenang jasa kiai dan nyai Lenging yang membuat saluran air tersebut sehingga tetap bermanfaat hingga saat ini untuk air minum dan pengairan persawahan.

” Meski teah ribuan tahun sumber air dan saluran ini tetap bermanfaat, di musim kemarau seperti ini tidak surut apalagi kering,” katanya sembari menambahkan ritual digelar usai warga panen padi dan panen kopi yang biasanya pada bulan Agustus.

Dia mengatakan ritual sekaligus untuk menanamkan cinta pada alam semesta. Tanpa pelestarian alam sumber air bisa kering yang berdampak negatif pada warga. Wujud cinta alam itu dilakukan dengan pembersihan lingkungan sumber air, penanaman pohon dan melancarkan saluran air. ” Kami juga gelar wayang kulit, untuk meruwat desa agar jauh dari marabahaya, dan dosa-dosa warga diampuni, ” katanya.

Camat Kandangan Samsul Hadi mengatakan even ritual dari tahun ke tahun terus meningkat dan diharapkan kedepan semakin dapat untuk menyedot wisatawan. Kegiatan tersebut untuk pelestarian tradisi ditengah gempuran teknologi informasi. ” Tradisi jangan sampai hilang dan dilupakan. Tradisi harus terus hidup,” katanya.

Dia mengatakan perlu kolaborasi dan inovasi dalam penanganan tradisi ritual tersebut sehingga dapat menjadi salah satu even pariwisata andalan di kabupaten tersebut yang menarik wisatawan dan mampu meningkatkan pendapatan warga.

Seorang wisatawan Agung mengatakan sengaja datang dari Magelang untuk ikut ritual setelah mendapat informasi dari seorang teman. ” Ritual ini sangat bagus. Tidak percuma saya datang bersama sejumlah teman,” katanya.

Wisatawan lainnya, Rizal mengatakan ikut ritual sebagai suatu kepuasan tersendiri, selain percaya untuk menghilangkan marabahaya. ” Saya ikut ritual, dan makan bersama warga, ini jarang ditemukan di kota besar,” katanya. (Osy)

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Para Maniak Kekerasan (Refleksi Tewasnya Suporter Bola di SSA Bantul)

SUDAH sepekan berlalu, namun tragedi tewasnya penonton sepakbola Muhammad Iqbal Setiawan masih bikin miris. Rasa duka mendalam juga sangat mungkin

Close