Perbedaan Gagrag Wayang

 MERAPI-JB SANTOSO – Dewa Wisnu naik garuda (tengah), gaya Yogya.
MERAPI-JB SANTOSO – Dewa Wisnu naik garuda (tengah), gaya Yogya.

Tidak lengkap rasanya mengupas perbedaan wayang hanya dari satu sisi. Dalam internet banyak muatan tulisan tentang perbedaan ini. Tentu saja narasinya sesuai dengan pandangan masing-masing, sesuai dengan daerah di mana yang bersangkutan tinggal. Subyektivitas ini adalah lumrah. Bagi pencinta seni wayang, perbedaan seperti ini justru menjadi bunga-rampai di taman seni pedalangan yang sangat indah dan menarik dicermati.

Sekarang, mari kita simak perebedaan wayang kulit antara Batara Narada gaya Surakarta dan Narada gaya Yogya. Secara umum, Batara Narada gaya Yogyakarta berpakaian sederhana dan tidak mengenakan jubah serta keris di pinggang bagian belakangnya. Selain itu mulut Batara Narada gaya Yogyakarta lebih kecil jika di bandingkan dengan wayang Batara Narada gaya Surakarta.
Selain itu Batara Narada dari kedua gaya dapat dibedakan juga dengan bentuk tangannya. Jika pada gaya Surakarta tangan depan Batara Narada menunjuk, maka dalam gaya Yogyakarta kedua tangan Batara Narada sama-sama menekuk jari manis dan jari tengahnya sehingga kedua jari tersebut menyentuh ibu jari.

Setelah Batara Guru dan Batara Narada dibahas di atas, kini mari kita lihat lebih lanjut ke Batara Indra. Untuk Batara Indra, yang merupakan dewa langit dan raja dari para bidadari dari gaya Surakarta menggunakan mahkota sebagai hiasan kepala dan mengenakan jubah lengkap, keris dan sepatu. Konon sepatu yang mulai diperkenalkan pada wayang-wayang gaya Surakarta mulai banyak kita jumpai pada wayang wayang Yogyakarta seperti wayang Batara Indra milik salah seorang dalang dari Yogyakarta, Ki Sukoco yang memakai jubah, keris dan sepatu.

Satu lagi hal yang perlu di perhatikan adalah Batara Indra Gaya Surakarta memiliki jenggot yang bermula dari dagu sampai pada pangkal leher, sedang pada gaya Yogyakarta sangan jarang ditemui wayang dengan jenggot seperti yang terlihat pada Batara Indra gaya Surakarta. (JB Santoso)

 

Read previous post:
DARI KUTHAGEDHE, MATARAM ISLAM BERJAYA (4) – Senopati Membuat Mataram Makmur

Mendengar khabar tentang meninggalnya Ki Ageng Pemanahan dari Ki Jurumertani, Sultan Hadiwijaya sedih hati, lalu katanya: “Kakak Jurumartani, sebagai ganti

Close